Artinya, kata Eddy, kita harus memperhatikan durasi dan amplitudo suhu tinggi, serta perhatikan kondisinya. Jika hanya sesaat saja, misalnya hanya satu hari dan nilainya pun tidak melebihi deviasi cukup besar, tentu belum didefinisikan sebagai gelombang panas.
“Kenapa, kok, bumi makin panas?” Sinar matahari ketika tiba di bumi dihalangi oleh awan. Artinya, matahari ada faktor penghalang itu, maka kalau tidak ada faktor penghalang satu kawasan itu tidak dapat penghalang.
”Artinya, itu bebas, ya, tentu potensinya besar untuk mengalami heatwave atau gelombang panas,” ujarnya.
Eddy mengatakan belum diketahui dengan pasti bila puncak panas ini akan segera berakhir. Namun, jika analisisnya berbasis perilaku data Indian Ocean Dipole (IOD) yang ada di Lautan Hindia, khususnya untuk kawasan barat Indonesia, dan kawasan Pantai Utara (pantura) Pulau Jawa, justru awal terjadinya kondisi panas sudah dimulai sejak April lalu. Terus merangkak hingga mencapai puncaknya di sekitar bulan Juli 2024.
Hal ini diperparah dengan mulai berhembusnya angin timuran yang bergerak melintasi kawasan Indonesia seiring dengan bergeraknya posisi matahari meninggalkan garis ekuator sejak 21 Maret, bergerak semu menuju belahan bumi utara (BBU).
“Jadi, ada indikasi kuat jika kondisi panas ini akan terus berlanjut. Selain kondisi uap air di kawasan barat Indonesia yang ditarik ke arah timur pantai timur Afrika, juga angin timuran yang berasal dari gurun di bagian utara Australia sudah mulai merangkak memasuki kawasan Indonesia,” kata Eddy.




