Badai Super Mocha, Organisasi Kemanusiaan Masih Kekurangan Dana Untuk Myanmar

Staf menyiapkan jerigen untuk didistribusikan di gudang UNICEF di Cox's Bazar menjelang Topan Mocha mendarat di perbatasan Myanmar dan Bangladesh, Minggu (14/5). FOTO: UNICEF/Rashad Wajahat Lateef

Darilaut – Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) masih sangat kekurangan dana kemanusiaan saat badai super Mocha (Super Cyclonic Storm) mendarat di perbatasan Myanmar dan Bangladesh.

Rencana Tanggap Kemanusiaan (Humanitarian Response Plan) sebesar US$764 juta untuk Myanmar yang tersedia hanya 10 persen.

Organisasi kemanusiaan, terutama di Rakhine, telah menempatkan personel dan persediaan. Di seberang Rakhine dan barat laut, enam juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan 1,2 juta orang mengungsi, kata Jens Laerke, dari OCHA.

OCHA bekerja untuk memastikan semua dapat memiliki akses tepat waktu dan tanpa hambatan kepada mereka yang membutuhkan. Laerke juga memperingatkan bahwa rencana tanggap kemanusiaan PBB senilai $764 juta untuk Myanmar hanya didanai 10 persen.

Laerke mengatakan masyarakat lokal di Myanmar sangat mempersiapkan kedatangan topan tersebut.

Rencana kesiapsiagaan tanggap darurat kemanusiaan Myanmar telah diaktifkan secara nasional awal pekan ini.

Ribuan warga Myanmar dan Bangladesh mengungsi saat badai super Mocha mendarat di perbatasan kedua negara tersebut, Minggu (14/5).

Menurut Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama, Joint Typhoon Warning Center (JTWC) Mocha mendarat di sepanjang pantai barat laut Myanmar, tepat di utara Sittwe. Sistem sata ini sedang bergerak perlahan ke pedalaman (daratan).

Siklon tropis Mocha membawa hujan lebat yang menyebabkan banjir, menerbangkan atap dan memutus saluran komunikasi di Myanmar barat pada hari Minggu. Ribuan orang berdesakan di biara, sekolah, dan tempat penampungan kokoh lainnya.

Mengutip Kantor Berita The Associated Press (AP) setidaknya tiga kematian dilaporkan di Myanmar, dan beberapa cedera dilaporkan di negara tetangga Bangladesh, yang terhindar dari serangan langsung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO melaporkan sebanyak 500.000 peralatan kesehatan darurat antar-lembaga dan 500.000 tablet pemurnian air telah dimobilisasi ke Departemen Penyimpanan Medis Pusat Kementerian Kesehatan Myanmar.

WHO telah menyiagakan 40 ambulans dan 33 tim medis keliling yang bersiaga di Cox’s Bazar, kata juru bicara agensi, Margaret Harris.

Sementara Badan pengungsi PBB (UNHCR) telah menyiapkan sekitar 230 ton makanan kering dan 24,5 ton biscuit. Lembaga bantuan tersebut siap menyediakan 50.000 makanan panas setiap hari, jika diperlukan, kata juru bicara UNHCR, Olga Sarrado.

“Kami khawatir dampak badai dengan curah hujan yang signifikan disertai tanah longsor dan banjir di kamp-kamp di dekat laut,” katanya.

“Akses ke kamp mungkin terhambat, sementara pasokan listrik dan menara ponsel mungkin rusak.”

Badan tersebut melakukan kesiapsiagaan darurat di kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar dan di pulau Bhasan Char, bekerja sama dengan otoritas lokal dan mitra kemanusiaannya.

Selain itu juga disiapkan bahan pelindung seperti terpal, tali, dan tikar bersama dengan 11 juta aqua tab, 60.000 jerigen, dan 300.000 sabun.

Sekitar 50 hingga 100 pasien dipindahkan ke rumah sakit di Cox’s Bazar, sementara sebagian besar pasien lainnya telah dipulangkan.

Badan tersebut juga bekerja sama dengan otoritas Bhasan Char untuk memastikan mitra dan sektor kemanusiaan tetap waspada dan para pengungsi terus mendapat informasi.

Dengan lebih dari 1.000 relawan, enam tim medis, dan dua ambulans siaga, persiapan meliputi 53 tempat perlindungan topan dan penyediaan makanan untuk 30.000 pengungsi Rohingya yang tinggal di pulau itu, selama 15 hari.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperingatkan bahaya cuaca ekstrem akan lebih sering terjadi karena perubahan iklim di tahun-tahun mendatang.

“Hubungan antara perubahan iklim, migrasi, dan perpindahan semakin mendesak di seluruh dunia,” kata badan tersebut.

IOM menyerukan kepada pemerintah untuk menerapkan adaptasi iklim yang berkelanjutan, kesiapsiagaan, dan langkah-langkah pengurangan risiko bencana untuk mencegah, memitigasi, dan mengatasi perpindahan yang terkait dengan bencana iklim dan memperkuat ketahanan rakyat.

Berbicara dari Cox’s Bazar, wakil kepala misi IOM, Nihan Erdogan, mengatakan bahwa Bangladesh memiliki rencana kesiapsiagaan “besar-besaran”, di mana IOM adalah mitranya.

“Kami telah melatih 100 relawan pengungsi di setiap kamp tentang kesiapsiagaan topan dan sistem peringatan bendera di 17 kamp yang dikelola IOM,” katanya.

“Bahan-bahan tenda darurat dan perlengkapan kebersihan sudah tersedia, dan alat pelindung diri telah disediakan untuk semua relawan”.

“Kita harus waspada dan membantu sesama anggota masyarakat agar mereka siap untuk menanggapi dan melindungi diri mereka sendiri dan orang lain jika kondisi cuaca memburuk saat topan mencapai kamp kami,” kata salah satu relawan pengungsi.

Badai siklon yang sangat parah dengan cepat menguat di Teluk Benggala, mengancam kawasan itu dengan angin kencang, banjir, dan tanah longsor yang berpotensi memengaruhi ratusan ribu orang paling rentan di dunia, kata Clare Nullis, dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Exit mobile version