Darilaut – Selama 10 tahun dua peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menganalisis kompetensi penerjemah (translation competence). Hasilnya dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi Current Issues in Language Planning yang terindeks Scopus Q1 pada Maret 2026.
Dua akademisi UNG tersebut, Novriyanto Napu dan Usman Pakaya, menghadirkan kajian ilmiah terbaru yang mengulas secara kritis perkembangan model penilaian kompetensi penerjemahan.
Artikel mereka berjudul “From Foundational Frameworks to Future Frontiers: Critical Perspectives of Translation Competence Assessment Models and Emerging Challenges”.
Penelitian ini menyoroti bahwa kompetensi penerjemahan bukan sekadar kemampuan bahasa, melainkan gabungan kompleks antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional.
Dengan menggunakan kerangka kerja dominan sebagai titik referensi analitik, peneliti menelusuri lintasan yang jelas dari penilaian produk akhir tunggal menuju desain penilaian yang berorientasi pada kriteria, multi-bukti, dan berorientasi pada proses.
Selama ini, penilaian kemampuan penerjemah cenderung berfokus pada hasil akhir terjemahan. Namun, studi ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak lagi cukup untuk menggambarkan kemampuan sebenarnya seorang penerjemah.



