Darilaut – Dalam lima tahun terakhir, Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional di seluruh dunia melaporkan kejadian banjir dan kekeringan yang memecahkan rekor.
Di beberapa tempat, tidak ada jeda waktu pemulihan di antara satu peristiwa dengan peristiwa berikutnya.
Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengenai State of Global Water Resources (Kondisi Sumber Daya Air Global) memberikan penilaian tahunan komprehensif berbasis sains mengenai siklus hidrologi dan peristiwa ekstrem pada tahun 2025, serta lima tahun terakhir.
“Air tidak mengenal batas wilayah. Keseimbangan air di suatu daerah aliran sungai bergantung pada apa yang terjadi di negara lain,” kata Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.
“Menyusutnya gletser di satu negara mengubah ketersediaan air bagi penduduk yang berada ratusan kilometer di bagian hilir. Inilah alasan mengapa kita membutuhkan data bersama, standar bersama, dan sistem peringatan dini bersama — yang merupakan fungsi utama keberadaan WMO.”
Tahun 2025 tercatat salah satu tahun terkering dalam hal debit sungai secara global selama 35 tahun terakhir, dengan aliran air di bawah normal terjadi di lebih dari 36% wilayah cekungan sungai dunia.
Data ini didasarkan pada simulasi dari 13 model hidrologi global yang menggunakan data cuaca hasil pengamatan.
Selama tujuh tahun berturut-turut, jumlah cekungan sungai dengan kondisi “normal” berada dalam kelompok minoritas yang nyata: berkisar antara 34-38%, dibandingkan dengan rata-rata 46% pada periode 1991-2020, menurut laporan tersebut.
Cadangan air daratan—yaitu total jumlah air yang tersimpan dalam air tanah, danau dan sungai, kelembapan tanah, vegetasi, serta es dan salju—telah mengalami penurunan sejak pertengahan tahun 2010-an.
Tahun 2025 menandai tahun keempat berturut-turut terjadinya penyusutan gletser secara luas di semua wilayah, yang memicu bahaya jangka pendek seperti banjir serta ketidakamanan air jangka panjang.
Antara tahun 2023 dan 2025, gletser terus kehilangan massa setiap tahunnya, dengan total akumulasi kehilangan massa gletser global mencapai 1.400 gigaton air.
Jumlah ini kira-kira setara dengan volume air yang dibutuhkan untuk mengisi sekitar 560 juta kolam renang ukuran Olimpiade, atau sekitar sepertiga dari total pengambilan air tawar tahunan.
Puluhan ahli dari Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional, pusat data, kalangan peneliti, serta lembaga mitra turut berbagi data observasi in situ, hasil pemodelan, dan data berbasis satelit untuk menyusun laporan ini.
Cakupan laporan telah berkembang pesat, dengan jumlah variabel hidrologi yang meningkat dari tiga menjadi 15 sejak edisi pertama pada tahun 2021.
Namun, Afrika dan Asia masih menjadi wilayah dengan keterwakilan paling minim dalam hal data observasi hidrologi di laporan ini, padahal kedua wilayah tersebut paling terdampak oleh kondisi ekstrem.
