Darilaut – Jembatan Kawanua di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, terputus akibat banjir. Cuaca ekstrem juga melanda wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Provinsi Sulawesi Utara.
Jembatan Kawanua di Maluku Tengah sepanjang 480 meter ini mengalami kerusakan sekitar dua bentangan atau 150 meter akibat derasnya banjir yang melimpas, pada Minggu (9/7) malam.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Maluku Tengah Abdul Latif Key menjelaskan banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Maluku Tengah.
Jembatan ini merupakan akses utama warga dari Kecamatan Tehoru di Kabupaten Maluku Tengah menuju Kecamatan Siwalalat di Kabupaten Seram Bagian Timur. Dengan begitu, akses Trans Pulau Seram sementara waktu dapat ditempuh melalui jalur laut.
BPBD Kabupaten Maluku Tengah juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna melakukan penanganan darurat. Namun kondisi cuaca di lokasi menjadi kendala tersendiri dalam upaya perbaikan jembatan di Kawanua.
Selain itu, jembatan Wai Tonetana di Waipia juga sempat mengalami kerusakan. Kondisi terkini, kerusakan sudah berhasil ditangani oleh Balai Pelaksana Jalan Nasional dengan melakukan perbaikan di ujung jembatan.
Saat ini lalu lintas transportasi roda dua maupun roda empat sudah dapat melintas secara normal.
Menurut Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) banjir juga berdampak pada 56 rumah di Desa Holo Kecamatan Amahai. Sedikitnya 257 jiwa terdampak kejadian ini.
Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur sejak Senin (10/7) dini hari, berakibat banjir dan longsor melanda beberapa desa di wilayah tersebut. Beberapa desa yang terdampak antara lain Desa Nuangan 1, Molobog, Motongkad, dan Jiko di Kecamatan Nuangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boltim, Elfis Siagian menjelaskan, petugas di lapangan masih melakukan pendataan jumlah korban terdampak, namun belum ada informasi korban jiwa.
Elfis menjelaskan bencana banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi di wilayahnya diakibatkan intensitas curah hujan yang tinggi, meluapnya air sungai karena terbatasnya kapasitas tampung sungai.
Selain itu, belum tersedianya bangunan tanggul pengendali banjir, belum dibuatnya tanggul penahan tanah dan terganggunya daerah resapan air di bagian hulu dan sepanjang aliran sungai akibat pertambangan emas dan alih fungsi lahan.
Akibat banjir dan longsor ini jalan nasional yang melintasi wilayah tersebut sempat terputus. Upaya pembersihan telah dilakukan petugas, sehingga jalan ini sudah dapat dilewati kendaraan.
Merespon adanya potensi cuaca ekstrem tersebut, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D, mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk waspada dan mengantisipasi potensi risiko yang dapat terjadi.
Masyarakat juga diimbau untuk waspada apabila curah hujan tinggi dengan durasi di atas satu jam, serta menghindari area lereng yang berpotensi longsor.
