Darilaut – Penanganan persampahan, air bersih dan sanitasi, serta kajian adaptasi iklim di Kota Gorontalo menjadi bahasan dalam Thematic Panel of Experts Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC). Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari di Courtyard Bali Nusa Dua Resort, Bali, sejak Selasa (29/10).
Kepala Bappeda Kota Gorontalo, Meidy N. Silangen yang hadir sebagai pembicara dalam forum CRIC tersebut menjelaskan banyak, di antaranya, tentang perkembangan dan gambaran umum Kota Gorontalo hingga isu strategis.
“Dalam isu strategis khususnya penanganan sampah, kami memaparkan tentang bagaimana sistem pengelolaan sampah yang terbatas,” kata Meidy yang juga ketua kelompok kerja (pokja) Climate Resilient and Inclusive Cities.
Selain itu, dijelaskan minimnya infrastruktur daur ulang dan pengelolaan sampah, kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah, serta “keterbatasan program pengelolaan sampah berbasis komunitas,” ujarnya.
Berbicara soal isu air bersih, kata Meidy, sedikitnya ada tiga poin penting yang disampaikan dalam forum tersebut. Baik itu terkait dengan sedimentasi dan degradasi daerah aliran sungai.
Begitu pula tentang meningkatnya permintaan akibat pertumbuhan penduduk, serta kurangnya kesadaran dalam penggunaan air.
Untuk sedimentasi dan degradasi daerah aliran sungai (DAS), sedimentasi DAS Limboto mengurangi kapasitas aliran air bersih ke wilayah kota.
”Erosi yang terjadi di hulu juga meningkatkan sedimentasi di sungai, yang berdampak pada ketersediaan air bersih di kota,” kata Meidy.
“Danau Limboto yang terancam mengalami penyusutan juga menambah tantangan ketersediaan air bersih, karena merupakan sumber air penting bagi daerah ini.”
Mengenai meningkatnya permintaan air bersih, kata Meidy, hal ini karena pertumbuhan penduduk, ditambah dengan sistem penyediaan air yang sering kali tidak mampu mengikuti peningkatan permintaan.
Karena itu, banyak wilayah mengalami kekurangan air bersih, terutama saat musim kemarau. Meidy mengatakan penggunaan air yang boros di beberapa sektor dan masyarakat, ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang perlindungan sumber air, ”memperburuk masalah ketersediaan air,” ujarnya.
