Beban Kerja Memori Terlalu Berat Salah Satu Penyebab Mahasiswa Cemas Saat Ujian Skripsi

Zulkifli Tanipu, MA, Ph.D. FOTO: KOLEKSI PRIBADI

Darilaut – Saat ujian skripsi mahasiswa ada yang cemas, gugup dan tidak fokus. Ini antara lain saat ada pertanyaan mendadak oleh penguji.

Padahal, mahasiswa ini telah belajar dengan giat dan menguasai apa yang telah diteliti. Fenomena ini bukanlah hal langka di dunia akademik.

Banyak mahasiswa memahami apa yang mereka teliti, tetapi mendadak “blank” ketika harus menjelaskannya di hadapan dosen penguji.

Situasi ruang ujian yang terasa tegang bahkan sering dipersepsikan seperti ruang pengadilan, bukan ruang dialog ilmiah.

Dari sudut pandang ilmu bahasa dan psikologi kognitif, kondisi ini tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya penguasaan materi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor psikolinguistik—yakni cara otak memproses bahasa di bawah tekanan—memegang peranan penting dalam fenomena “blank” saat ujian skripsi.

Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Zulkifli Tanipu, M.A., Ph.D., mengatakan, salah satu penyebab utama mahasiswa kehilangan kelancaran berbicara saat ujian karena beban kerja memori yang terlalu berat.

Dalam sidang skripsi, menurut Zulkifli, mahasiswa dituntut menjelaskan teori, metode, dan temuan penelitian, sekaligus merespons pertanyaan secara spontan. Semua itu harus dilakukan dalam waktu singkat sambil menjaga kestabilan emosi.

Masalahnya, working memory atau memori kerja manusia memiliki kapasitas terbatas. Otak tidak mampu memproses terlalu banyak informasi secara bersamaan, kata Zulkifli.

Ketika beban informasi melebihi kapasitas tersebut, kemampuan berpikir dan berbahasa mulai terganggu.

Akibatnya, mahasiswa kesulitan menyusun jawaban, kehilangan alur bicara, atau bahkan terhenti sama sekali.

“Faktor lain yang tak kalah penting adalah kecemasan. Saat gugup, fokus mahasiswa bergeser dari isi jawaban ke ketakutan akan penilaian penguji,” kata Zulkifli.

”Pikiran seperti takut salah, takut dianggap tidak kompeten, atau takut tidak mampu menjawab justru memperparah kondisi mental dan memperlambat proses berpikir. Dalam keadaan seperti ini, otak bekerja kurang optimal, sehingga kemampuan berbicara ikut menurun.”

Wawancara dengan sejumlah mahasiswa menunjukkan bahwa pertanyaan mendadak menjadi salah satu pemicu kecemasan terbesar. Meski telah belajar dengan sungguh-sungguh, pertanyaan yang datang secara tiba-tiba sering membuat mahasiswa merasa tidak siap.

Tekanan semakin meningkat ketika penguji mengharapkan jawaban cepat, sementara mahasiswa membutuhkan waktu untuk menyusun respons yang terstruktur.

Para dosen mengakui bahwa durasi ujian yang singkat dan ritme tanya jawab yang cepat dapat menghambat mahasiswa dalam menampilkan kemampuan terbaiknya.

Ketika tidak diberi cukup waktu untuk berpikir, mahasiswa cenderung kehilangan fokus dan alur penjelasan. Hal ini menunjukkan bahwa desain ujian skripsi turut memengaruhi performa mahasiswa, bukan hanya kesiapan akademik mereka, kata Zulkifli.

Temuan-temuan ini mengingatkan kita bahwa ujian skripsi seharusnya tidak hanya mengukur kemampuan intelektual, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis mahasiswa.

Perubahan kecil dalam cara penguji menyampaikan pertanyaan—misalnya memberi jeda berpikir—dapat membuat perbedaan besar.

Menurut Zulkifli, kampus dapat berperan aktif dengan menyediakan pelatihan berbicara di depan publik dan manajemen kecemasan akademik.

Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis pemahaman ilmiah, ujian skripsi dapat menjadi ruang dialog intelektual yang sehat. Mahasiswa tidak hanya diuji, tetapi juga diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi secara optimal.

Pada akhirnya, hasil ujian skripsi pun akan lebih mencerminkan kompetensi mahasiswa yang sesungguhnya.

Exit mobile version