Darilaut – Dosen Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr. Meyko Panigoro, menyoroti fenomena meningkatnya gagal bayar pinjaman online (pinjol) di kalangan anak muda Indonesia.
Meyko menilai persoalan ini bukan sekadar masalah kedisiplinan individu, melainkan cerminan dari lemahnya kesiapan generasi muda menghadapi realitas finansial di era digital.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2025, puluhan ribu rekening dari kelompok usia di bawah 19 tahun tercatat mengalami gagal bayar. Sementara itu, kelompok usia 19–34 tahun mencatat jumlah yang jauh lebih besar dengan nilai pinjaman yang signifikan.
Angka ini dinilai sebagai indikasi adanya persoalan struktural dalam sistem pendidikan ekonomi di Indonesia.
Meyko menjelaskan bahwa selama ini pembelajaran ekonomi di sekolah masih didominasi pendekatan teoritis. Siswa lebih banyak mempelajari konsep seperti pasar, inflasi, dan fungsi uang, namun belum dibekali keterampilan praktis dalam mengelola keuangan pribadi.
Akibatnya, banyak anak muda memahami teori ekonomi, tetapi kesulitan mengambil keputusan finansial dalam kehidupan nyata.
“Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara literasi ekonomi yang diajarkan di ruang kelas dengan praktik sehari-hari, terutama dalam menghadapi layanan keuangan digital seperti pinjol,” ujarnya.



