BMKG Minta Tidak Sepelekan Informasi Cuaca dan Iklim

Akibat cuaca buruk (gelombang tinggi) KM Sabuk Nusantara 102 tujuan Pelabuhan Bitung balik lagi ke Pelabuhan Gorontalo, Senin (2/9/2019). FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta penyedia layanan angkutan penyeberangan tidak menyepelekan informasi cuaca yang rutin dikeluarkan BMKG. Hal ini sebagai langkah mitigasi dan antisipasi dalam upaya meningkatkan keselamatan transportasi.

Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki banyak sekali pelabuhan dan dermaga yang melayani angkutan penyeberangan. Hampir 65 persen wilayah Indonesia merupakan perairan.

Karena itu, informasi cuaca laut sangat krusial dalam menciptakan keselamatan transportasi di titik-titik penyeberangan.

“Kami sangat berharap dukungan informasi iklim dan cuaca yang dikeluarkan BMKG dapat dimanfaatkan dengan baik guna meningkatkan keamanan dan keselamatan transportasi,” kata Dwikorita dalam Focus Group Discussion (FGD) daring yang diselenggarkan BMKG, Rabu (18/8).

FGD ini dengan tema “Waspada Cuaca, Tingkatkan Keselamatan Jalur Penyeberangan“. Hadir dalam FGD Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, nakhoda kapal penyeberangan, syahbandar dan elemen terkait lainnya.

Dwikorita mengatakan, kondisi cuaca sangat berpengaruh terhadap kelancaran dan keamanan transportasi penyeberangan laut. Kemungkinan hujan, badai, angin, dan gelombang tinggi sangat besar terjadi selama perjalanan.

Terlebih, kata Dwikorita, saat ini Indonesia dan negara-negara di dunia tengah menghadapi perubahan iklim yang memicu pergeseran pola musim dan suhu udara sehingga juga mengakibatkan peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi.

“Perubahan cuaca berlangsung sangat cepat dan tidak menentu yang dipengaruhi banyak faktor. Karenanya, kami juga terus berupaya meningkatkan, kecepatan, ketepatan, dan akurasi dalam prakiraan cuaca hingga skala tapak. Untuk itu pada tahun 2018 dan 2019 BMKG memasang HF Radar yg berfungsi mendeteksi kecepatan dan arah arus, serta tinggi gelombang dan tsunami secara real time di Selat Bali dan Selat Sunda,” katanya.

Menurut Dwikorita, BMKG terus menyisir berbagai persoalan yang dihadapi penyedia layanan angkutan penyeberangan dan stakeholder lainnya guna meningkatkan keselamatan transportasi penyeberangan. BMKG ingin informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan tidak hanya dimengerti dan dipahami, namun juga dapat dipatuhi.

“Jadi para operator dan penyedia layanan penyeberangan tahu kapan harus jalan, kapan harus berhenti. Dengan begitu, kemungkinan jatuhnya korban dan kerugian lainnya dapat diminimalisir,” ujarnya.

Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan saat ini BMKG melayani informasi cuaca utk 220 Pelabuhan dan 232 Wilayah Perairan di seluruh Wilayah Indonesia.

Mulai tahun 2019 lalu hingga tahun 2024 nanti BMKG sedang melakukan program percepatan untuk Modernisasi dan Inovasi Teknologi Sistem Observasi, Analisis, Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Maritim di sepanjang Jalur Lintasan Pelayaran Utama dan Penyeberangan di Perairan Indonesia.

Exit mobile version