Darilaut – Hingga akhir Juli 2026, lebih dari lima ribu orang mengalami kesulitan air bersih di Provinsi Gorontalo. Dampak Kekeringan ini telah meluas di Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mencatat data sementara sebanyak 5.388 jiwa atau 2.361 kepala keluarga (KK) di tiga kabupaten mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, Moh. Tahir Laendeng, mengatakan wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Gorontalo Utara.
Dampak musim kemarau tidak hanya menyebabkan krisis air bersih bagi masyarakat, tetapi juga meningkatkan ancaman kekeringan berkepanjangan serta kebakaran hutan dan lahan.
Selain krisis air bersih, ”dampak yang muncul adalah kekeringan dan meningkatnya potensi kebakaran hutan maupun lahan akibat kondisi cuaca yang semakin kering,” kata Tahir, Jumat (31/7).
Menurut Tahir di musim kemarau ini sudah ada tiga kabupaten yang melaporkan daerahnya terdampak. Kabupaten Bone Bolango sudah mencapai lima kecamatan terdampak, Kabupaten Gorontalo tiga kecamatan, dan Kabupaten Gorontalo Utara satu kecamatan.
Data sementara, Kabupaten Bone Bolango menjadi daerah dengan sebaran wilayah terdampak paling luas. Di Kecamatan Bone Pantai, kekeringan melanda Desa Tongo, Desa Pelita Hijau, Desa Batu Hijau, dan Desa Uabanga dengan total 221 KK atau 954 jiwa terdampak.




