Darilaut – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo memantau sebanyak 18 titik api yang tersebar di tiga kabupaten di wilayah Provinsi Gorontalo.
Untuk itu, BPBD) Provinsi Gorontalo mengimbau agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Gorontalo, Rusli W. Nusi, mengatakan, titik api tersebut perlu mendapat perhatian serius sebagai langkah awal pencegahan kebakaran hutan dan lahan, khususnya memasuki periode musim kering.
Tim Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Gorontalo memantau sebaran 18 titik api melalui website https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id, data tersebut terpantau melalui sistem pemantauan titik panas, pada 2 Juli 2026.
“Dari data sistem per tanggal 2 Juli 2026, terpantau ada 18 titik api yang tersebar di tiga kabupaten di Gorontalo. Untuk lahan masih dapat tertangani, sedangkan untuk kebakaran hutan sampai saat ini belum ada kejadian,” ujar Rusli, Kamis (3/7).
Menurut Rusli, BPBD Provinsi Gorontalo terus melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta pihak terkait untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran lahan maupun hutan.
Selain itu, masyarakat diimbau agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang dapat meluas, terutama saat kondisi cuaca mulai kering.
Yang paling penting adalah kami menghimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Potensi kebakaran di Gorontalo lebih banyak berada di lahan, sehingga perlu menjadi perhatian bersama, kara Rusli.
BPBD Provinsi Gorontalo juga telah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) penanganan kebakaran hutan dan lahan. SOP tersebut akan disebarkan kepada wilayah-wilayah sebagai pedoman dalam melakukan langkah pencegahan dan penanganan apabila terjadi kebakaran.
Rusli menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan jajaran Polda Gorontalo, TNI, serta relawan dalam memperkuat kesiapsiagaan. Bentuk pencegahan yang akan dilakukan antara lain penyebaran flyer dan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Terkait kondisi cuaca, Rusli menyebut berdasarkan prakiraan, wilayah Gorontalo berpotensi mengalami El Nino lemah yang dapat memicu kekeringan hingga sekitar Agustus sampai September 2026.
BPBD Provinsi Gorontalo pun memastikan kesiapan armada, peralatan, dan personel dalam menghadapi dampak kekeringan, terutama kebutuhan air bersih bagi masyarakat di wilayah yang mengalami kesulitan air.
“Sebagaimana SOP kami, BPBD akan tetap turun ke setiap wilayah yang mengalami kesulitan air. Armada dan peralatan kami siap,” kata Ruslis, tahun lalu kondisi seperti ini juga terjadi dan dapat kami tangani melalui kerja sama dengan Polri dan TNI.
BPBD Provinsi Gorontalo menegaskan kesiapan untuk memberikan dukungan air bersih bagi masyarakat di seluruh wilayah Provinsi Gorontalo yang terdampak kekeringan.
