BRIN Kerja Sama Hasil Riset Gaharu dengan BBC Media Action

Pohon gaharu dikenal berbau harum dan sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan parfum. FOTO: LINDUNGIHUTAN.COM

Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan BBC Media Action untuk penyebarluasan hasil riset gaharu.

Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan – BRIN, Ahmad Fathoni, mengatakan ini pertama kalinya kolaborasi dengan BBC Media Action dalam mendiseminasikan hasil-hasil riset kepada masyarakat.

BBC Media Action telah melakukan kegiatan pengambilan gambar konten audio visual inokulan gaharu di Gedung Indonesia Culture Collection (InaCC), Cibinong, pada Rabu (17/5).

Melalui kegiatan ini diharapkan para periset dapat terbantu dalam proses hilirisasi produk teknologi hasil penelitiannya. Sehingga, hasil riset dan inovasi yang dihasilkan dapat tersampaikan dalam menjawab kebutuhan masyarakat, kata Fathoni.

Fathoni menjelaskan kegiatan Pusat Riset Mikrobiologi Terapan dan BBC Media Action dapat berkelanjutan, tidak hanya fokus mengenai riset gaharu, namun juga kepada aspek lainnya.

Di samping itu, menurut Fathoni, banyak periset yang juga melakukan riset terkait pengungkapan biodiversitas nusantara. Ini akan menjadi kesempatan para periset untuk mendiseminasikan hasil-hasil risetnya kepada masyarakat, salah satunya dengan menggunakan bantuan BBC Media Action.

Saat ini, BBC Media Action memiliki dua lokasi masyarakat binaan, Jambi dan Kalimantan Utara, terkait dengan gaharu.

“Video yang berisikan audio visual inokulan gaharu ini dapat mempermudah transfer teknologi kepada masyarakat di sana,” kata Fathoni.

Perwakilan BBC Media Action, Intan Permata Sari, mengatakan, dengan adanya video teknik pembuatan inokulan gaharu ini akan mempermudah untuk memfasilitasi dan berdiskusi dengan masyarakat binaan sekaligus memotivasi masyarakat agar dapat memproduksi inokulan secara mandiri.

Menurut periset dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Asep Hidayat inokulan disebut kultur fungi berbentuk cair, yang mampu membantu menstimulasi pembentukan resin gaharu.

Untuk bisa menghasilkan resin gaharu, perlu menginokulasi pohon gaharu dengan inokulan gaharu sebagai salah satu upaya perlakuan (dengan cara pelukaan) untuk membatu proses pembentukan resin gaharu.

Masyarakat yang menanam pohon gaharu, pada pohon yang telah berdimater leboh dari 20 Cm harus diinokulasi agar dapat dengan cepat pohon tersebut menghasilkan resin gaharu, kata Hidayat.

Dengan inokulasi, pohon gaharu lebih pasti akan menghasilkan resin gaharu dibanding dengan pohon yang tidak diinokulasi dengan prediksi waktu yang lebih jelas.

Bahkan jika mau, resin gaharu sebagai sumber bahan baku minyak dapat dipanen setelah 6 bulan inokulasi. Inokulan tidak hanya bisa diproduksi di laboratorium tetapi juga dapat diproduksi secara mandiri oleh masyarakat (petani gaharu).

Hidayat mengatakan setelah petani memiliki biakan murni fungi yang menstimulasi pembentukan resin gaharu, mereka dapat memperbanyak inokulan penghasil gaharu dengan menggunakan bahan-bahan media kultur yang mudah dijumpai.

Dengan demikian, petani tidak perlu lagi membeli inokulan. Akan tetapi cukup membeli biakan murni fungi, sehingga lebih murah, praktis dan mudah serta dapat diproduksi sesuai kebutuhan.

Dengan melakukan inokulasi dengan inokulan yang diproduksi secara mandiri, masyarakat dapat secara intensif melakukan inokulasi.

Keanekaragaman hayati dapat berupa mikroorganisme, fauna dan flora. Tanaman gaharu sebagai sumber keanekaragaman hayati penghasil hasil hutan bukan kayu menghasilkan nilai ekonomi yang sangat tinggi berupa resin gaharu (gubal gaharu).

Proses pembentukan gubal gaharu secara alami membutuhkan waktu yang lama sehingga perlu suatu teknologi inokulasi buatan dengan fungi potensial yang dapat menginduksi pembentukan gubal gaharu yang lebih cepat.

Exit mobile version