BRIN Segera Miliki Satelit Operasional Penginderaan Jauh

Peta ini menunjukkan permukaan laut hasil pengukuran satelit Sentinel-6 Michael Freilich dari tanggal 5 hingga 15 Juni. Area merah permukaan laut lebih tinggi dari biasanya, dan area biru lebih rendah dari biasanya. FOTO: NASA Earth Observatory/PHYS.ORG

Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan segera memiliki satelit operasional penginderaan jauh resolusi sangat tinggi.

“Jika proposal kita disetujui, kita akan memiliki Satelit Operasional Penginderaan Jauh VHR Optic dan SAR Near Equatorial sendiri karena selama ini kita adalah pengguna data satelit penginderaan jauh,” kata Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto, saat melakukan kunjungan kerja ke Pusat Riset Penginderaan Jauh (PR Inderaja) Jakarta, Senin (21/3).

Heru menjelaskan mengenai Program dan Struktur Kerja Tahun 2022 di Lingkungan ORPA. Empat program riset berdampak dengan stakeholder yaitu Riset Penerbangan, Riset Satelit, Riset Roket, dan Riset Antariksa.

Selain itu, Struktur Organisasi ORPA beserta dukungan SDM di dalamnya dan Rumah Program. Pada tahun anggaran 2022 ini, Rumah Program ORPA menargetkan capaian 200 publikasi internasional, 60 kekayaan intelektual, 7 model, 4 desain produk industri, 50 purwarupa inovasi teknologi penerbangan dan antariksa.

Pelaksana Tugas Kepala PR Inderaja, Rachmat Arief mengatakan terdapat tiga program utama yang sedang dan akan dilaksanakan pada tahun anggaran 2022 ini, yaitu Teknologi Inderaja, Metode Pengolahan Data Inderaja, dan Platform Inderaja.

Dari ketiga program utama tersebut dikelompokkan ke dalam 10 Work Breakdown Structures/ WBS yang dipimpin oleh seorang Group Leader, di mana jumlah kegiatan riset yang akan dilaksanakan sebanyak 41 judul.

“Kita akan melakukan riset yang berorientasi kepada kebutuhan pengguna. Jadi kebutuhan global seperti SDG’s dan kebutuhan Nasional yang akan men-drive arah riset kita,” kata Rachmat.

Secara rinci terkait dengan teknologi kunci Inderaja. Teknologi tersebut merupakan rangkuman dari hasil riset di PR Inderaja saat ini.

Di antaranya mission requirement for payload, lalu pengembangan payload itu sendiri, sistem akuisisi stasiun bumi, pre processing, pengembangan software, radar processing, mosaic dan analysis ready data.

Kemudian, karakteristik spektral, remote sensing earth engine, teknologi pengenalan ciri fisik dan interaksi gelombang elektromagnetik, deteksi parameter geobiofisik, pengembangan model 2 dan 3 dimensi, serta pengembangan metode klasifikasi termasuk artificial intelligence.

“Teknologi kunci yang kita kuasai tersebut telah mendapat pengakuan pihak ketiga ditinjau dari berbagai parameter seperti publikasi internasional, hak kekayaan intelektual, purwarupa, model dan seterusnya. Jadi bukan hanya hasil mengaku-ngaku untuk mendapat pengakuan,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi yang melibatkan para pakar internal PR Inderaja, banyak masukan yang bisa dijadikan acuan untuk kegiatan penyelenggaraan keantariksaan ke depan.

Di antaranya mengenai pelaksanaan PP Nomor 11 Tahun 2018 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Penginderaan Jauh yang merupakan turunan dari UU Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.

Di dalam peraturan maupun undang-undang yang masih berlaku tersebut diatur penyelenggaraan penginderaan jauh dari hulu sampai ke hilir. Hal tersebut sudah pernah dilakukan oleh eks Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

“Dengan bergabungnya LAPAN ke dalam BRIN, maka diharapkan penyelenggaraan penginderaan jauh akan menjadi lebih optimal lagi. Sehingga mampu melayani kebutuhan pengguna yang terus berkembang,” ujarnya.

Exit mobile version