Bunga Padang Lamun Penanda Awal Syawal di Torosiaje

Ilustrasi padang lamun (Seagrass). FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Orang-orang Torosiaje di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, memiliki beragam kearifan lokal.

Salah satunya, penentuan awal Syawal. Penanda awal Syawal bagi suku Bajo Torosiaje yang berada di kawasan Teluk Tomini dengan mencermati pertumbuhan padang lamun (seagrass). 

Lamun dengan sebutan sammo di Torosiaje tumbuh di dasar laut dangkal. Ini satu-satunya tumbuhan berbunga yang dapat hidup di laut.

Keberadaan bunga sammo ini dihitung sesuai dengan peredaran bulan. Karena kemunculan bunga sammo tidak serentak.

“Awal bulan tidak banyak bunga yang muncul, nanti malam ketiga bunganya paling banyak yang mekar,” ujar Umar Pasandre, tokoh masyarakat Torosiaje dan Ketua Kelompok Studi Lingkungan (KSL) Paddakauang.

Ketika sammo mekar, buah lamun ini akan mengeluarkan bunga. Bunga sammo itulah sebagai penanda esoknya lebaran. Begitu pula awal puasa Ramadan, bunga sammo sebagai penanda.

Kemunculan ”bunganya pada jam tertentu, biasanya setengah enam atau jam enam sore,” kata Umar.

Itu sebabnya, kemunculan pertama bunga sammo saat senja atau hari mulai malam ini sangat dinantikan di Torosiaje. ”Tidak menunggu isbat,” kata Umar.

Pengamatan empiris orang Torosiaje yang pemukimannya berada di atas permukaan laut tersebut tidak hanya muncul begitu saja.

Orang-orang Torosiaje di masa lalu tidak hanya bergantung pada hilal atau bulan sabit.

Hal ini lantaran kondisi alam atau cuaca. Meskipun berada di laut, bukan berarti hilal akan selalu terlihat. Bulan sabit ini tak dapat diamati apabila mendung atau turun hujan.

Kemunculan bunga sammo inilah sebagai penanda awal dan akhir Ramadan, serta 1 Syawal atau lebaran.

”Kalau sudah mekar bunga sammo, itu malam pertama,” kata Umar, akan tetapi ”mekarnya buah lamun di malam pertama tidak banyak.”

Kearifan lokal awal bulan kamariah di Torosiaje tersebut sudah berlangsung lama. Mekarnya bunga padang lamun sebagai penanda awal Syawal di Torosiaje lahir karena kondisi alam, yang hingga kini masih terus dipertahankan.

Apalagi kondisi orang Torosiaje yang sebagian hidup melaut, mencari ikan, yang seringkali lokasinya jauh atau tidak terjangkau sistem komunikasi seperti telepon seluler dan sarana informasi lainnya termasuk  jaringan internet.

Tidak semua jenis lamun sebagai penanda bulan kamariah.

Di masa lalu, leluhur orang Torosiaje Tidak menunggu pengumuman. Praktik ini kata Umar, ”sudah turun-temurun.”  

Umar telah mengidentifikasi tiga jenis lamun yang tumbuh di perairan Torosiaje.

Tumbuhan lamun yang menjadi penanda dan berbunga rutin tersebut memiliki panjang daun 0,5 hingga 1,5 meter dan lebar 1 sampai 2 cm.

“Panjang daun tergantung kedalaman perairan,” kata Umar, yang juga motivator dan pendamping dalam penanaman mangrove yang telah memperoleh sejumlah penghargaan lingkungan.

Tumbuhan yang memiliki panjang daun lebih dari satu meter dan lebar 2 cm tersebut merujuk pada spesies lamun Enhalus acoroides.

Spesies lamun Enhalus mudah dikenali karena memiliki daun yang panjang dan warna hijau gelap.

Di Torosiaje, jenis lamun ini tumbuh di substrat berpasir atau dekat karang (koral) dan berlumpur.

Lamun jenis ini tersebar di hamparan perairan Torosiaje sekitar 8 hektar, ”sedangkan dua jenis lamun lainnya diperkirakan 5 hektar,” kata Umar.  (Verrianto Madjowa)

Exit mobile version