Darilaut – Prinsip penanggalan gambar seni cadas sebenarnya sederhana, namun sangat presisi. Prosesnya berawal dari air hujan yang meresap ke dalam batu kapur gua.
Ahli arkeologi dan geokimia dari Griffith University dan Southern Cross University, Prof. Maxime Aubert menyampaikan temuan penanggalan gambar cadas atau rock art di di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Prof. Maxime menjelaskan secara rinci bagaimana ilmuwan memastikan umur lukisan prasejarah tersebut. Untuk mengetahuinya, memakai teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua.
Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers publikasi jurnal Nature, yang diselenggarakan di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (22/1).
“Air hujan meresap melalui batu kapur, melarutkan sedikit kalsium dan uranium. Ketika air mengalir di atas permukaan seni cadas, air itu mengendap dan membentuk lapisan tipis di atas lukisan,” ujar Prof. Maxime, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Lapisan tipis kalsit inilah yang menjadi kunci. Di dalamnya terkandung uranium yang seiring waktu meluruh menjadi thorium.
Dengan membandingkan jumlah atom uranium dan thorium, para peneliti dapat menghitung kapan lapisan itu terbentuk.
“Jika lapisan itu berada di atas lukisan, maka itu memberi kita usia minimum. Artinya lukisan setidaknya setua lapisan tersebut. Jika lapisannya berada di bawah, itu memberi usia maksimum,” kata Prof. Maxime.
Prof. Maxime juga menjelaskan kemajuan teknologi yang digunakan timnya. Metode lama penanggalan uranium biasanya mengharuskan sampel dibawa ke laboratorium dan diproses secara kimia menjadi bubuk.
Kini, tim menggunakan teknologi ablasi laser. “Kami mengambil inti sampel sangat kecil, sekitar lima milimeter, menembus lapisan pigmen. Kemudian kami mengarahkan laser untuk memetakan uranium dan thorium,” ujarnya.
Dengan laser, peneliti dapat memetakan usia di banyak titik dalam satu sampel. Kami bisa menghitung usia di sini, di sini, dan di sini. Usia makin muda ke arah permukaan. Titik yang paling dekat dengan pigmen itulah usia minimum lukisan, kata Prof. Maxime.
Dari pemetaan itu, salah satu sampel di Pulau Muna menunjukkan lapisan berusia sekitar 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67.800 tahun bagi cap tangan di Liang Metanduno. Ini berarti lukisan di bawahnya setidaknya setua umur tersebut.
