Cara Menangani Produk Kurban di Masa Pandemi Covid-19

Angkutan ternak sapi. FOTO: DITJEN HUBLA

Darilaut – Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Satriyo Krido Wahono, mengatakan, manajemen pengelolaan hewan kurban harus memperhatikan sejumlah aspek. Seperti ilahiyyah (ibadah dan taqarrub) dan insaniyaah (kemanusiaan, sosial, dan ekonomi).

“Aspek kesejahteraan hewan menjadi isu yang juga diperhatikan, untuk menghasilkan produk daging kurban yang berkualitas dan sesuai dengan syariat,” kata Satriyo, seperti dikutip dari Lipi.go.id.

Kegiatan dimulai dari pemeliharaan hewan kurban, penjualan, pengiriman penyembelihan, hingga pembagian kepada masyarakat harus memperhatikan aspek keamanan pangan yang berpedoman pada ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

Dilansir Lipi.go.id, adanya pembatasan jumlah orang selama adaptasi kenormalan baru untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 membuat mobilitas masyarakat terbatas maka dari itu pembelian dan penjualan hewan kurban dapat dilaksanakan melalui daring (dalam jaringan).

Menurut Peneliti domba Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI, Awistaros Angger Sakti, terdapat alternatif untuk memininimalkan kontak secara lansgung dengan membeli hewan kurban secara daring dengan mengetahui data gigi, foto hewan kurban secara fisik, dan bobot badan digital. Disarankan juga agar calon pembeli hewan kurban telah mengenal penjual.

Teknologi Preservasi Daging

Sebagian besar daging mengandung protein dan bahan-bahan organik yang sifatnya mudah rusak sehingga perlu perhatian khusus. Kerusakan pada daging pasca penyembelihan dapat disebabkan tiga faktor yakni pertama faktor biologis (akibat mikrobiologi). Kedua faktor oksidasi (zat kimia), terakhir karena faktor dehidrasi dan enzimatik.

Untuk mengatasi kerusakan daging agar tidak membusuk sehingga aman dikonsumsi masyarakat, memperpanjang waktu simpan, dan memperbaiki kualitas produk maka distributor daging dapat menggunakan teknologi presevarsi daging sebelum dikemas.

“Pengemasan daging kurban terlebih dahulu dengan memanfaatkan teknologi sebelum didistribusikan adalah cara yang aman guna melindungi produk dan konsumen dari paparan penyakit,” kata peneliti Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI, Andi Febrisiantosa.

Terdapat tujuh teknologi preservasi daging yaitu cold storage, dehydrating, salting and curing, smoking and cooking, canning, irradiation dan standardization, blending and emulsification.

Setelah dilakukan preservasi, daging dikemas dengan memeperhatikan aspek pengemasan yakni kemasan harus melindungi dari perubahan fisik, kimiawi, dan biologis serta efisien agar masyarakat yang akan mengonsumsi daging kurban tetap terlindungi.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, selalu menyambut hari raya Idul Adha dengan melakukan penyembelihan hewan kurban.

Pandemi Covid-19 telah membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi kenormalan baru yang mengharuskan juga pelaksanaan protokol keamanan kesehatan dalam melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

Kementerian Pertanian RI telah mengeluarkan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Kurban di Masa Pandemi Covid-19 agar berjalan aman.*

Exit mobile version