Cegah Narkoba, Stunting dan Penguatan Pangan Sebanyak 1.518 Mahasiswa Turun di 102 Desa

1.518 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) diterjunkan ke tengah masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026 di 102 desa yang berada di Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Bone Bolango. FOTO: HUMAS UNG

Darilaut – Sebanyak 1.518 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) diterjunkan ke tengah masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026.

Dengan mengusung tema “KKN Tematik Generasi Emas: Pencegahan Narkoba, Stunting, dan Penguatan Pangan Keluarga”, ribuan mahasiswa UNG tersebut disebar di 102 desa.

Program ini diarahkan untuk menghadirkan kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan strategis di masyarakat.

Sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian, para mahasiswa terlebih dahulu mengikuti coaching dan pelepasan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan KKN.

Pembekalan ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memahami tema, menyusun program kerja, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dinamika kehidupan masyarakat di desa.

Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa KKN Tematik Tahap II tahun ini melibatkan 220 Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Para mahasiswa akan disebar ke 102 desa yang berada di Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Bone Bolango.

Menurut Rosbin, keterlibatan mahasiswa dalam tiga isu utama, yakni pencegahan narkoba, penanganan stunting, dan penguatan pangan keluarga, diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah.

Melalui tema yang diangkat, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing desa. Pendampingan dari DPL juga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan dapat berjalan secara terarah dan memberikan manfaat, kata Rosbin.

Sementara itu, Rektor UNG Prof. Eduart Wolok, mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan KKN sekadar kewajiban akademik, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Rektor meminta mahasiswa terlebih dahulu memahami karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat di lokasi masing-masing sebelum menjalankan program.

Prof. Eduart mengatakan manfaatkan masa KKN ini dengan sebaik-baiknya untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Pahami tema dan program kerja, kemudian sesuaikan dengan potensi serta kebutuhan masyarakat di masing-masing desa.

Menurut Rektor, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari sejauh mana mahasiswa mampu membangun hubungan yang baik dan meninggalkan manfaat, yang dapat dilanjutkan masyarakat setelah masa pengabdian berakhir.

“Jangan menyikapi KKN sebagai formalitas belaka agar tidak terasa memberatkan. Jalani dengan gembira, penuh semangat, dan rasa tanggung jawab,” ujarnya.

“KKN adalah momentum untuk belajar langsung dari dinamika masyarakat, menimba pengalaman, sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan yang ada.”

Dengan waktu pengabdian selama 45 hari, ribuan mahasiswa UNG diharapkan mampu menghadirkan berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui kolaborasi mahasiswa, Dosen Pendamping Lapangan, pemerintah desa, dan masyarakat, KKN Tematik Tahap II 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama membangun masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan tangguh menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia.

Exit mobile version