Copernicus Atmosphere Monitoring Service menyediakan pemantauan dan prakiraan komposisi atmosfer secara hampir waktu nyata (near-real-time), yang membantu melacak penyebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan, serta menjadi dasar bagi pemberian imbauan kesehatan masyarakat.
Kebakaran hutan dan lahan serta pembakaran biomassa melepaskan berbagai macam polutan, termasuk partikulat halus, nitrogen oksida, serta banyak senyawa organik yang mudah menguap (VOC) dan gas rumah kaca.
Meskipun emisi global akibat pembakaran biomassa telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, paparan global terhadap asap kebakaran hutan justru meningkat akibat kebakaran yang lebih ekstrem di dekat wilayah berpenduduk.
Setelah dilepaskan ke atmosfer, polutan ini dapat terbawa jauh dari lokasi kebakaran, mengubah situasi darurat lokal menjadi episode kualitas udara berskala regional atau benua. Reaksi kimia di dalam gumpalan asap juga dapat menghasilkan polutan sekunder—termasuk ozon, sebagaimana dibahas pada bagian sebelumnya—yang dapat memberikan dampak tambahan terhadap kualitas udara.
Hampir 2 Juta Hektare Terbakar
Sepanjang tahun 2026, hingga Oktober ini, area hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia hampir 2 juta hektare. Adapun jumlah titik panas (hotspots) kebakaran hingga 20 Oktober lebih dari 1,1 juta.



