Dana Adaptasi Iklim Belum Cukup di Tengah Pemanasan Global yang Melampaui 1,5°C

Ilustrasi tumbuhan mangrove. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Program Lingkungan PBB (UNEP) mengatakan dana adaptasi iklim masih jauh dari cukup di tengah pemanasan global yang melampaui 1,5°C.

Dalam laporan yang diterbitkan UNEP pada hari Rabu (4/11) menyebutkan meskipun pemanasan global diperkirakan akan melampaui 1,5°C, pendanaan untuk membantu masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim masih jauh dari kebutuhan yang ada.

Melansir UN News, Laporan Kesenjangan Adaptasi (Adaptation Gap Report) tahun 2026 menemukan bahwa negara-negara berkembang akan membutuhkan sekitar $305 miliar per tahun pada tahun 2035 untuk membangun ketahanan dan mengurangi risiko.

Namun, bahkan jika pendanaan publik internasional untuk adaptasi ditingkatkan hingga tiga kali lipat, hanya maksimal 29 persen dari kebutuhan yang akan terpenuhi.

“Dunia belum siap untuk beradaptasi dengan kondisi iklim saat ini, apalagi menghadapi dampak yang akan muncul jika pemanasan global melampaui ambang batas 1,5°C,” kata Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen.

Laporan ini dirilis menjelang konferensi COP31, yang akan dibuka minggu depan di Antalya, Turki.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa:

• Upaya global untuk membantu negara-negara berkembang beradaptasi terhadap perubahan iklim masih kekurangan dana.

• Hambatan kelembagaan menghambat pelaksanaan upaya tersebut.

• Sementara kerugian dan kerusakan akibat iklim terus meningkat.

Arus pendanaan publik internasional untuk adaptasi mencapai $28,2 hingga $31,7 miliar pada tahun 2024, atau hanya meningkat satu miliar dolar dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhannya cenderung stagnan; terlebih lagi, estimasi sebesar $305 miliar tersebut belum mencakup kebutuhan sektor swasta, yang berarti angka sebenarnya bisa dua kali lipat lebih besar.

Seruan untuk meningkatkan dukungan tahunan hingga tiga kali lipat telah disepakati pada konferensi iklim tahun lalu di Brasil dan merupakan bagian dari dokumen hasil utama yang dikenal sebagai Global Mutirão—sebuah istilah dalam bahasa Portugis yang berasal dari ungkapan masyarakat adat untuk menyebut “tugas kolektif”.

Bahkan jika tujuan ini tercapai, proyeksi pendanaan sebesar $85 miliar hingga $120 miliar per tahun hanya akan mencakup 20 hingga 29 persen dari estimasi kebutuhan setelah disesuaikan dengan inflasi.

Andersen mengatakan pada konferensi iklim COP31 di Turki dan seterusnya, berbagai negara harus berfokus untuk mengintensifkan upaya guna mencapai aspirasi Global Mutirão dari COP30, yaitu melipatgandakan pendanaan adaptasi hingga tiga kali lipat pada tahun 2035—sembari memahami bahwa jumlah tersebut perlu ditingkatkan lebih jauh lagi demi menyelamatkan nyawa, mencegah kerugian dan kerusakan, serta melindungi perekonomian.

Laporan tersebut menekankan bahwa negara-negara masih dapat mencapai target untuk melipatgandakan pendanaan dari tingkat tahun 2019 menjadi $40 miliar pada tahun 2025, sebagaimana tercantum dalam Pakta Iklim Glasgow 2021 yang diadopsi pada COP26 di Skotlandia.

Bank pembangunan multilateral kemungkinan telah meningkatkan pendanaan mereka secara signifikan pada tahun lalu, dan arus pendanaan antarnegara berkembang juga meningkat, dari $3,8 miliar pada tahun 2019 menjadi $9,6 miliar pada tahun 2024.

Namun, pendanaan saja tidaklah cukup. Laporan tersebut menggarisbawahi perlunya memperkuat institusi dan mempercepat implementasi guna melindungi komunitas yang rentan, membangun ketahanan, serta menangani kerugian dan kerusakan akibat iklim yang kian meningkat.

Reformasi kesehatan sederhana dapat menyelamatkan 1,6 juta nyawa setiap tahun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di bawah PBB pada hari Rabu mendesak berbagai negara untuk meningkatkan penerapan enam langkah ketahanan iklim yang telah terbukti, yang diyakini dapat menyelamatkan 1,6 juta nyawa setiap tahun.

Seruan ini disampaikan menjelang perundingan iklim COP31 PBB di Turki yang akan dimulai pekan depan.

Salah satu pesan utamanya adalah bahwa perubahan iklim merupakan krisis kesehatan, namun sebagian besar dampak buruk yang ditimbulkannya dapat dicegah melalui solusi terjangkau yang sudah tersedia saat ini.

Diperkirakan 3,3 hingga 3,6 miliar orang hidup dalam kondisi yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Enam langkah pencegahan yang diharapkan WHO untuk diterapkan mencakup sistem peringatan dini untuk gelombang panas, layanan air dan sanitasi yang tahan terhadap perubahan iklim, serta penggunaan bahan bakar dan teknologi rumah tangga yang lebih bersih untuk keperluan memasak dan pemanas ruangan.

WHO juga menyerukan kepada pemerintah berbagai negara untuk memastikan bahwa harga bahan bakar fosil mencerminkan dampak kerusakan yang ditimbulkannya terhadap kesehatan masyarakat di mana pun.

Hal ini dapat menyelamatkan 1,2 juta jiwa per tahun berkat berkurangnya polusi udara, sekaligus memberikan manfaat tambahan berupa penurunan emisi gas rumah kaca, serta menghasilkan pendapatan pajak sebesar $5,4 triliun per tahun, di samping keuntungan kesejahteraan ekonomi secara keseluruhan sebesar $3 triliun per tahun.

Exit mobile version