Darilaut – Sejak tanggal 1 Januari 2025 hingga 1 November 2025 agregasi hiu paus (Rhincodon typus) di zona interaksi perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, sebanyak 303 hari.
Darilaut.id menyematkan 303 hari agregasi hiu paus di perairan Botubarani, kawasan konservasi perairan di wilayah Teluk Gorontalo bagian dari Teluk Tomini tersebut sebagai rekor baru.
Berdasarkan gambar yang ditampilkan dari Januari hingga Oktober, terdapat 302 kemunculan hiu paus (whale shark) di zona interaksi perairan Botubarani. Jumlah kemunculan setiap hari bervariasi 1 hingga 8 individu. Pada Tanggal 1 November 2025 jumlah kemunculan hiu paus 3 individu.
Tanpa kemunculan hiu paus di zona interaksi tanggal 18 Maret dan 7 Oktober 2025.
Kemunculan hiu paus terbanyak dengan jumlah empat individu di bulan April, Mei, Juli dan Agustus. Lima individu di bulan Juni, Juli, Agustus dan September 2025. Kemunculan enam individu paling banyak di bulan Juni.
Agregasi sebanyak tujuh individu di lokasi zona interaksi tanggal 13 Juni, 7 Juli, 26 September, 27 September dan 30 September. Kemunculan terbanyak delapan individu pada tanggal 13 Juli dan 1 Oktober.
Hiu paus spesies ikan terbesar di Bumi yang muncul hampir setiap hari dari bulan Januari sampai 1 November 2025 karena beberapa faktor.
Pertama, selama tahun 2025 paus orca (Orcinus orca) atau killer whale yang biasanya membuat hiu paus menghindar tidak mendekati perairan Botubarani. Tidak ada laporan paus orca berada di perairan Botubarani Januari hingga 1 November 2025.
Kedua, terdapat empat rumpon yang ada di dalam zona interaksi hiu paus di perairan Botubarani.
Rumpon ini sangat berpengaruh dan sebagai penunjang kehadiran plankton, baik fitoplankton dan zooplankton serta ikan-ikan kecil sebagai makanan hiu paus.
Rumpon – alat bantu penangkapan ikan atau Fish Agregation Device (FAD)– berfungsi sebagai pemikat ikan. Plankton dan ikan-ikan kecil biasanya akan berkumpul di rumpon.
Hiu paus dengan nama lokal Gorontalo munggiyango hulalo (hiu bulan) yang muncul di perairan Botubarani bukan selalu individu yang sama.
Sejarah Kemunculan Hiu Paus
Hiu paus sudah lama menjadi bagian keseharian nelayan Gorontalo, lebih khusus lagi di Botubarani. Spesies ikan ini, dan mamalia laut (termasuk cetacea didalamnya) dilindungi oleh nelayan di pesisir selatan Gorontalo.
Sejak dulu hingga sekarang megafauna laut bukan menjadi ”musuh” nelayan Gorontalo. Perlindungan spesies tersebut turun-temurun pada keluarga nelayan, tanpa melalui peraturan atau kaidah tertulis.
Hiu paus sudah lama melintasi perairan Botubarani, Oluhuta, Olele di Bone Bolango dan Boalemo, hingga Taman Nasional Kepulauan Togean dan Parigi Moutung, Sulawesi Tengah.
Sejumlah nelayan yang mencari ikan, terutama nike sering melihat keberadaan spesies ini. Begitu pula laporan pemancing ikan, sering melihat hiu paus di Teluk Tomini.
Wisatawan mancanegara dan jasa wisata selam seperti Miguels Diving Gorontalo telah melaporkan adanya hiu paus. Hiu paus ini sedang melakukan migrasi di perairan Gorontalo.
Miguel’s Diving Gorontalo, telah mencatat dan memotret kemunculan Whale Shark, pada 16 September 2008. Arsip Miguel’s Diving menyebutkan hiu paus ini memiliki panjang empat meter. Di tahun itu, beberapa kali Miguel’s Diving melihat hiu paus, bersama wisatawan lainnya.
Pada 2010, wisatawan yang melakukan penyelaman melalui jasa wisata Miguel’s Diving merekam melalui video hiu paus di Gorontalo. Terdapat dua rekaman video hiu paus ini.
Pertama, dipublikasikan 7 Maret 2010 oleh Dave Ehrmann. Durasi video ini 48 detik. Video kedua, dipublikasi 21 Maret 2010 oleh John Kingdom, dengan durasi 32 detik.
April 2013, Rantje Allen pimpinan Miguel’s Diving memotret hiu paus dengan panjang berkisar enam sampai tujuh meter di perairan Gorontalo. Selanjutnya, Agustus 2014 Yunis Amu juga dari Miguel’s Diving, memotret hiu paus ini.
Tahun 2015, nelayan melaporkan kemunculan hiu paus di perairan Botubarani. Setahun kemudian, pada April 2016, lokasi Botubarani viral di media dan menjadi destinasi wisata hiu paus hingga awal November 2025.
Zona Interaksi Hiu Paus
Zona interaksi hiu paus saat ini tepat berada di belakang PT Sinar Ponula Deheto. Perusahaan perikanan PT Sinar Ponula Deheto sejak 2013 mulai mengolah udang vaname (Litopenaeus vannamei), selain juga mengolah hasil perikanan lainnya.
Limbah kepala dan kulit udang, ada yang diolah kembali menjadi makanan ikan, dan sebagian dibuang ke laut.
Mulanya, kepala dan kulit udang vaname ini dibuang didekat tubir karang. Hempasan ombak membawa kembali kulit dan kepala udang ini ke pantai Botubarani. Selanjutnya, kulit dan kepala udang ini dibuang agak jauh dari tubir karang.
Ketika mulai membuang kepala dan kulit udang tersebut, mulai terlihat hiu paus mendekat dan melintas. Lama kelamaan, hiu paus mendekat ke perahu.
Biasanya, empat hiu paus selalu muncul saat kulit dan kepala udang ini ditebar di laut.
Bila udang yang diolah cukup banyak, dalam sehari, kulit dan kepala udang ini dibuang tiga kali: pagi, siang dan sore. Jika sedikit pasokan udang, hanya sekali membuang di laut dalam sehari. Apabila belum ada pasokan udang, tidak ada aktivitas membuang limbah kepala dan kulit udang.
Dalam beberapa hari, meski tidak membuang kepala dan kulit udang, hiu paus ini ada yang terlihat di lokasi tersebut.
Olis Latief dan Arfan Ali, nelayan Botubarani bertugas membuang limbah kepala dan kulit udang tersebut.
Keduanya, bersama nelayan Botubarani awalnya tak pernah menyangka hiu paus yang selalu mendekat di perairan Botubarani menjadi daya tarik dan atraksi utama wisata.
Setelah viral tahun 2016, jumlah hiu paus yang terpantau di perairan Botubarani sebanyak 13 – 14 individu.
Hingga saat ini, terdapat lima model pengamatan hiu paus di perairan Botubarani. Pertama, dengan menggunakan scuba diving, kegiatan menyelam di bawah air dengan menggunakan peralatan scuba (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus). Ke-2, snorkeling, menyelam di permukaan air dengan menggunakan peralatan seperti masker selam, snorkel (tabung pernapasan), dan fin (kaki katak). Ke-3, free dive, menyelam tanpa tabung oksigen atau alat bantu pernapasan.
Ke-4, menggunakan perahu pelang dengan pemandu wisata. Ke-5, dengan menggunakan perahu transparan dan pengambilan gambar dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone). Ke-6, pengamatan dari pantai Botubarani.
Makanan Tambahan
Pernah ada kritikan pemberian makanan tambahan untuk hiu paus. Ini bukan makanan utama hiu paus. Tidak semua makanan tambahan yang diberikan akan masuk ke perut hiu paus.
Pengamatan Darilaut.id di bawah laut saat makanan tambahan diberikan, lebih banyak mengambang dan tengelam ke dasar laut.
Pemberian makanan tambahan oleh pemandu wisata agar hiu paus muncul atau tetap berada di permukaan. Dengan demikian, pengunjung atau wisatawan dapat melihat saat hiu paus mendekati perahu atau pengambilan gambar dengan pesawat tanpa awak (drone).
Faktor utama kemunculan hiu paus tahun 2025, karena keberadaan empat rumpon di dalam zona interaksi. Makanan utama hiu paus berkumpul dan menyebar dari empat rumpon. Selain itu, setiap akhir bulan Hijriah adalah musim nike di kawasan Teluk Gorontalo. Nike ini sebagai makanan utama hiu paus.
Sejak viral awal 2016 hingga awal November 2025, terdapat lima macam makanan tambahan yang diberikan. Makanan tambahan tersebut (1) limbah kulit dan kepala udang vaname, (2) udang jarlombo, (3) udang paku, (4) udang putih dan (5) udang kecil lainnya. Pemberian makanan tambahan ini berganti-ganti, tergantung pasokan dan ketersediaan.
Tahun 2016, ketika banyak pasokan limbah kepala dan kulit udang beberapa kali bahkan pernah sebulan lebih hiu paus tidak muncul di zona interaksi. Meski limbah kepala dan kulit udang dibuang dalam jumlah banyak, tetap tidak ada hiu paus yang muncul, seperti tabel dibawah ini.
Hiu paus sama sekali tidak terlihat di bulan September 2016 dan bulan-bulan lainnya kemunculan tidak setiap hari seperti Januari, Februari, Maret, Agustus, September, Oktober, November dan Desember.
Berdasarkan data kemunculan harian dan bulanan tahun 2016 dalam tabel tersebut, adanya makanan tambahan seperti limbah kepala dan kulit udang, tidak menjadi jaminan kemunculan hiu paus setiap hari di zona interaksi hiu paus.
Perlindungan Penuh Hiu Paus
Dalam aturan tertulis, hiu paus, sejak 1999 ditetapkan dalam Apendiks II Convention on Migratory Species (CMS). Artinya, hiu paus baru akan ‘merasakan’ dampak yang signifikan bila perlindungan dan pengelolaannya diterapkan melalui kerja sama internasional. Upaya konservasi spesies ini dilakukan melalui jejaring antar berbagai negara.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan hiu paus sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh. Penetapan ini melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu paus.
Spesies ini masuk dalam daftar merah Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam atau International Union for Conservation of Nature (IUCN), serta appendiks Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah atau Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) atau yang merupakan perjanjian internasional antarpemerintah.
Upaya konservasi hiu paus ada dua. Pertama, ketika bermigrasi di laut dan samudra hiu paus adalah spesies yang sudah dilindungi di Indonesia dan internasional.
Kedua, di lokasi agregasi, seperti di zona interaksi perairan Botubarani adalah kawasan konservasi perairan di wilayah Teluk Gorontalo. Begitu pula ketika hiu paus berenang di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean, jantung segitiga karang dunia (coral triangle) dan cagar biosfer Togean Tojo Una-Una di Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah konservasi ini bagian dari kawasan Teluk Tomini. (Verrianto Madjowa)
