Darilaut – Tak ada lagi titian yang menghubungkan satu cottage dengan cottage lainnya yang membentuk mirip dengan gambar ‘love’ di Pulo Cinta.
Pulo Cinta, destinasi romantis yang terletak di Gorontalo, pernah menjadi primadona bagi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.
Kini simbol ‘love’ dan pesona cottage yang berdiri di atas hamparan atol bakal tinggal kenangan. Kondisi terkini bangunan dan tempat inap Pulo Cinta Eco Resort, sudah tidak layak lagi untuk ditempati.
Pulo Cinta salah satu objek wisata unggulan yang terletak di Teluk Tomini. Lokasinya berada di Patoameme, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.
Tahun 2021 Pulo Cinta diterjang badai dan gelombang pasang tinggi. Peristiwa ini mengakibatkan kerusakan parah pada bangunan yang ada di Pulo Cinta.
Kerusakan tersebut membuat Pulo Cinta terbengkalai sehingga sudah tidak ada lagi wisatawan yang datang berkunjung hingga saat ini.
Pada Minggu (14/4) Ketua Organsasi Sahabat Nelayan Boalemo (SNB), Roy Syawal, setelah menyelam di ’rumah ikan’ mengabadikan kondisi bangunan Pulo Cinta Eco Resort melalui foto dan video.
”Kondisi Pulo Cinta yang sangat terkenal pada masanya saat ini kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Roy.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, mengatakan, pengelolaan Pulo Cinta terhenti akibat dampak alam. Dampak tersebut termasuk sea level rise dan abrasi yang merupakan fenomena global sulit dihindari.
Apakah nantinya destinasi Pulo Cinta Gorontalo hanya akan menjadi kenangan?
Ke depan potensi wisata ini tetap bisa dikelola berbasis investasi. Dengan pengelolaan yang profesional diharapkan bisa menarik wisatawan mancanegara, kata Aryanto.
Pulo Cinta, menurut Aryanto, lokus bagi trend wisata deep experience yang disukai wisatawan mancanegara.
”Prinsipnya kita perlu pertahankan resort ini karena menjadi salah satu destinasi ikonik di Gorontalo,” ujar Aryanto.
Peneliti Kelautan dan Wisata Bahari, Gusnar Lubis Ismail, mengatakan, ketika resort Pulo Cinta masih beroperasi, terumbu karang dan padang lamun di sekitarnya mulai pulih.
”Keberadaan ikan-ikan hias pun semakin meningkat,” kata Gusnar yang juga alumni magister Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Hal ini terjadi setelah kawasan tersebut dikembangkan menjadi zona pariwisata, ”menciptakan pengalaman wisata yang mendalam bagi wisatawan asing,” ujar Gusnar.
Meskipun kondisinya telah terbengkalai dan fasilitasnya tidak lagi beroperasi, masih terdapat penjaga yang ditugaskan di Pulo Cinta.
Dengan demikian, pengunjung masih dapat datang hanya untuk sekadar mengambil foto dengan menyewa perahu dari daratan. (Sulis Dwi Fadjar Baeda)
