Dinamika Laut Sulawesi, Massa Air Dari Samudra Pasifik ke Indonesia Mengalami Pembelokan dan Resirkulasi

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Dinamika laut dalam Indonesia mulai dari intrusi massa air hingga sistem sirkulasi seperti di Laut Sulawesi

Laut Sulawesi merupakan salah satu wilayah kunci dalam sistem sirkulasi laut global, khususnya dalam jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo).

Menurut Prof. Agus Saleh Atmadipoera dari IPB University, massa air dari Samudra Pasifik yang memasuki wilayah Indonesia melalui Laut Sulawesi tidak mengalir secara linier, melainkan mengalami pembelokan, percabangan, dan resirkulasi sebelum menuju Selat Makassar.

Kondisi ini menunjukkan kompleksitas sistem sirkulasi yang dipengaruhi oleh topografi dasar laut dan interaksi arus regional, kata Prof. Agus.

Keberadaan pusaran arus (eddy) di kawasan ini juga memicu proses upwelling dan downwelling yang berperan penting dalam distribusi nutrien dan produktivitas biologis laut.

Selain itu, variabilitas iklim global seperti fenomena El Niño–Southern Oscillation turut memengaruhi kekuatan dan distribusi Arlindo.

Dalam struktur vertikal, lapisan termoklin pada kedalaman 100 hingga 200 meter menjadi jalur utama aliran Arlindo, dengan proses pencampuran kompleks antara massa air dari Pasifik dan perairan Indonesia.

Prof. Agus menjelaskan bahwa keberadaan gelombang internal yang terbentuk akibat interaksi arus dengan topografi dasar laut, serta fenomena intrusi air dingin secara tiba-tiba (bolus) di sekitar Taman Nasional Bunaken yang berdampak pada ekosistem laut.

Meski terdapat keterbatasan data akibat kendala teknis dan durasi pengamatan, ia menegaskan bahwa hasil penelitian ini tetap memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika oseanografi Laut Sulawesi.

Kepala Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. A’an Johan Wahyudi, mengatakan, kerja sama antara BRIN dan IPB University dalam forum ini menjadi contoh penting sinergi antara lembaga riset dan akademisi.

“IPB berperan dalam penguatan dasar keilmuan dan pengembangan sumber daya manusia, sedangkan BRIN berfokus pada penguatan riset terapan dan infrastruktur observasi,” kata Aan dalam acara Deep-Sea Science Forum ke-3 bertema “Mengungkap Misteri Laut Nusantara” pada Selasa (5/5) di Jakarta.

Menurut Aan, Pusat Riset Laut Dalam BRIN memiliki mandat untuk memperkuat pemahaman ilmiah mengenai dinamika laut dalam Indonesia.

“Pengembangan teknologi seperti mooring, sensor bawah laut, serta integrasi data satelit dan model numerik menjadi bagian penting dalam dalam upaya memahami sistem laut yang kompleks dan sulit dijangkau secara langsung,” kata Aan, seperti dikutip dari Brin.go.id.

Riset laut dalam memerlukan pendekatan kolaboratif serta dukungan teknologi observasi yang memadai.  Kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi menjadi prasyarat utama untuk mempercepat kemajuan riset laut dalam di Indonesia.

Forum ilmiah seperti ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat ekosistem riset kelautan nasional.

“Forum ini tidak hanya menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, tetapi juga ruang diskusi kritis, pertukaran data dan metode, serta penguatan jejaring riset nasional maupun internasional,” kata Aan.

Exit mobile version