Darilaut – Pergeseran besar dalam cara publik mengonsumsi informasi menjadi sorotan utama dalam Indonesia Digital Conference (IDC) 2025 yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di The Hub Sinarmas Land, Jakarta. Dalam diskusi bertema “Sovereign AI: Menuju Kemandirian Digital”, para tokoh media membahas kaburnya batas antara media konvensional, media baru (new media), dan influencer dalam membentuk opini publik di era digital.
Helena Rea, Head of Project BBC Media Action Indonesia, menilai kehadiran influencer dan new media telah menggeser pola konsumsi informasi masyarakat.
“Opini publik kini bergeser. Influencer bisa memengaruhi media dan publik secara bersamaan,” ujar Helena.
Menurutnya, media tradisional perlu beradaptasi dengan format baru dan fokus pada kebutuhan audiens agar tetap relevan di tengah perubahan lanskap digital.
Anggota Dewan Pers, Rosarita Niken Widiastuti, mengungkapkan bahwa istilah new media hingga kini belum memiliki definisi baku. Namun dalam praktiknya, ia diisi oleh para influencer yang aktif memproduksi dan menyebarkan informasi.
“Influencer punya kedekatan emosional dengan audiens yang kadang tidak dimiliki media arus utama,” kata Niken.
Sementara itu, CEO Good News From Indonesia (GNFI), Wahyu Aji, menilai new media kini berpusat di platform media sosial. Ia memprediksi bahwa influencer yang selama ini beroperasi tanpa “rumah media” (homeless media) akan bermigrasi ke situs web dan bertransformasi menjadi media arus utama.
“Kami belajar dari kebutuhan audiens. Mereka tidak hanya ingin berita, tapi juga konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari seperti hobi, kuliner, dan hal-hal lokal”.
COO KapanLagi Youniverse (KLY), Wenseslaus Manggut, menilai bahwa peran jurnalis dan influencer kini saling beririsan. Ia menekankan bahwa jurnalis yang berpengalaman di bidang tertentu sebenarnya bisa menjadi influencer yang kredibel.
“Ketika orang yang paham bicara langsung ke publik, pengaruhnya bisa jauh lebih kuat”.
Meski demikian, para narasumber menyoroti pentingnya verifikasi informasi di tengah derasnya arus digitalisasi. Menurut Wahyu, kecepatan produksi konten kadang membuat new media kurang cermat dalam memframing berita. Oleh karena itu, kolaborasi antara media arus utama, new media, dan influencer dianggap penting untuk menjaga kredibilitas informasi dan membangun narasi publik yang sehat.
Indonesia Digital Conference (IDC)2025 menjadi ajang tahunan AMSI yang menyoroti isu-isu strategis dunia media digital. Tahun ini, IDC mengangkat tema “Sovereign AI: Menuju Kemandirian Digital”, yang menekankan pentingnya kedaulatan industri media di tengah gelombang transformasi digital berbasis kecerdasan buatan. (Novita J. Kiraman)
