Diseminasi Capaian COREMAP-CTI Untuk Mendukung Penanganan Dampak Perubahan Iklim

ICCTF melakukan pemantauan terumbu karang di bawah laut pada perairan lokasi implementasi COREMAP-CTI. FOTO: ICCTF

Darilaut – Sebagai upaya penanganan dampak perubahan iklim, Coral Reef Rehabilitation and Management ProgramCoral Triangle Initiative (COREMAP-CTI telah mengimplementasi program strategis di sejumlah lokasi.

Program ini menghasilkan model inovasi pembangunan terutama dalam pengelolaan ekosistem pesisir dan laut secara berkelanjutan, serta mendukung upaya penanganan dampak perubahan iklim di sektor kelautan dan perikanan.

Diseminasi capaian COREMAP-CTI tersebut akan berlangsung Rabu (11/5) di Jakarta. Penyebarluasan informasi kepada publik yang lebih luas tentang pembelajaran yang bisa dipetik dan capaian tersebut dapat dijadikan contoh model yang bisa direplikasi wilayah lainnya.

Capaian COREMAP-CTI dalam mendukung dampak perubahan iklim tersebut diimplementasikan melalui Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF). ICCTF satu-satunya lembaga nasional dana perwalian untuk perubahan iklim di Indonesia.

Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Dr. Sri Yanti mengatakan COREMAP-CTI merupakan salah satu upaya nyata dari Pemerintah Indonesia untuk menjaga kelestarian sumber daya terumbu karang, ekosistem terkait, dan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Dalam pelaksanaannya, menurut Sri Yanti, kegiatan COREMAP-CTI didukung oleh dana hibah Global Environment Facility (GEF) melalui World Bank (WB) dan dilaksanakan oleh Kementerian PPN/Bappenas melalui ICCTF.

Program tersebut bekerja sama dengan lima mitra pelaksana untuk pelaksanaan kegiatan di lapangan selama periode Agustus 2020 – Maret 2022.

Sri Yanti mengatakan perubahan iklim secara global telah mengubah komposisi fisika, biologi dan kimiawi lautan yang langsung maupun tidak langsung memengaruhi kehidupan biota laut di dalamnya. Karakteristik iklim laut seperti suhu, arus, oksigen terlarut merupakan komponen yang memengaruhi produktivitas primer dan sekunder, sekaligus berdampak pada distribusi dan kelimpahan perikanan pada suatu lokasi.

Selain itu, variabilitas iklim yang terjadi secara alami seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO), pada skala tahunan, dan Pacific Decadal Oscillation (PDO) pada skala 10 tahunan juga berpengaruh terhadap sektor perikanan dan kelautan.

Intinya, kata Sri Yanti, perubahan iklim berdampak serius pada sektor kelautan dan perikanan. Data RPJMN 2020-2024 mencatat, sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu ujung tombak pendapatan ekonomi nasional.

Namun terdapat mandat pemerintah untuk melindungi dan merehabilitasi ekosistem yang rusak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Karenanya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri serta membutuhkan kerjasama multi pihak seperti pihak swasta dan kelompok masyarakat.

Implementasi kegiatan COREMAP-CTI yang dilakukan oleh ICCTF-Bappenas sejalan dengan fungsi Bappenas sebagai enabler dalam pengembangan kawasan perairan secara terpadu untuk menghasilkan model inovasi pembangunan pesisir yang dapat direplikasi oleh Kawasan konservasi Perairan di daerah-daerah lain.

Exit mobile version