Darilaut – Dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr. Arfiani Rizki Paramata, memperkuat kapasitas dalam teknologi marikultur di Qingdao, Cina (Tiongkok).
Program ini menjadi bagian dari upaya kerja sama internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang teknologi marikultur atau budidaya laut.
Dr. Arfiani berhasil menyelesaikan kegiatan Belt and Road International Training on Mariculture Technologies yang berlangsung pada 19 Oktober hingga 2 November 2026. Kegiatan pelatihan internasional tersebut diselenggarakan oleh Department of International Cooperation, Ministry of Science and Technology (MOST), People’s Republic of China (PRC).
Partisipasi dosen dalam pelatihan internasional ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia dan perluasan jejaring akademik global.
Pengetahuan serta pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat diimplementasikan dalam kegiatan tridarma perguruan tinggi, sekaligus memperkaya pengembangan keilmuan kelautan dan perikanan di UNG.
Keikutsertaan dalam program ini merupakan kesempatan penting untuk memperluas wawasan, meningkatkan kapasitas akademik, serta memperoleh pengetahuan dan pengalaman internasional terkait perkembangan teknologi marikultur.
Bidang ini memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan sektor perikanan budidaya yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Pengembangan teknologi marikultur menjadi semakin relevan bagi wilayah pesisir dan kepulauan, termasuk kawasan Teluk Tomini yang memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang besar.
Penguasaan teknologi, inovasi, serta praktik budidaya laut yang berkelanjutan diharapkan dapat menjadi bekal dalam mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebelumnya, Arfiani telah mengikuti kegiatan International Symposium on Sustainable Fisheries and Aquaculture and Blue Transformation yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan China Fisheries and Seafood Expo di Tiongkok.
Kegiatan internasional ini diselenggarakan oleh Agricultural Trade Promotion Center, Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Republik Rakyat Tiongkok (Ministry of Agriculture and Rural Affairs, People’s Republic of China).
China Fisheries and Seafood Expo 2026 berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Qingdao Hongdao International Convention and Exhibition Center.
Forum ini menjadi ruang pertemuan akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan sektor perikanan dan akuakultur untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan perkembangan teknologi dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.
Salah satu isu penting yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah Blue Transformation atau transformasi biru, yakni pendekatan pengembangan sektor perikanan dan akuakultur yang mengedepankan keberlanjutan, inovasi teknologi, ketahanan pangan, serta keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya perairan dan pelestarian ekosistem.
Transformasi biru juga menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan perikanan global, terutama dalam mendorong sistem pangan akuatik yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Selain simposium internasional, China Fisheries and Seafood Expo menjadi ajang untuk mengenal perkembangan industri perikanan dan hasil laut, teknologi akuakultur, pengolahan produk perikanan, pengemasan, pengendalian mutu, hingga perdagangan produk perikanan di pasar internasional.
