Darilaut – Perkembangan iklim global masih menunjukkan kondisi yang mendukung berlanjutnya cuaca kering di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan nilai indeks Niño 3.4 dasarian sebesar +2.26 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28.2 menandakan berlangsungnya El Niño kuat yang diprakirakan masih dapat mengalami penguatan.
Fenomena tersebut berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di berbagai wilayah, kata BMKG.
Kondisi ini tercermin dalam prakiraan Dasarian I Agustus 2026, dimana curah hujan kategori rendah diprediksi mendominasi sekitar 91.43% wilayah Indonesia, sementara 8.57% lainnya berada pada kategori menengah, tanpa adanya wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi maupun sangat tinggi.
Meskipun demikian, menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG, peluang hujan tetap terdapat di sejumlah wilayah Indonesia. Aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin yang melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan diprakirakan mendukung pertumbuhan awan hujan, sementara aktivitas MJO secara spasial berpotensi memengaruhi wilayah Indonesia bagian timur.
Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat dapat membentuk pola konvergensi dan konfluensi di sekitar Laut Filipina serta wilayah di sekitar sirkulasinya.
Kondisi tersebut mendorong pertemuan dan penumpukan massa udara, sehingga hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpeluang terjadi secara lokal, terutama di wilayah yang dipengaruhi gelombang atmosfer, bibit siklon tropis, serta daerah konvergensi dan konfluensi, kata BMKG.
Selain masih adanya potensi hujan di sebagian wilayah, peningkatan kecepatan angin permukaan juga diprakirakan masih akan terjadi di sejumlah perairan dalam beberapa hari ke depan, yaitu sebagian wilayah Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Samudra Hindia selatan Jawa hingga selatan Nusa Tenggara Timur, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafura.
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W turut berpotensi meningkatkan kecepatan angin dan tinggi gelombang di perairan utara Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat dan pelaku aktivitas kelautan perlu mewaspadai potensi gelombang tinggi serta kondisi angin kencang di wilayah perairan yang terdampak.
Hujan dan Angin Kencang
Potensi hujan di Indonesia masih dapat terjadi di beberapa wilayah dalam sepekan ke depan periode 31 Juli – 6 Agustus 2026. Selain bahaya kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di sejumlah wilayah berpotensi terjadi angin kencang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan pada periode 31 Juli – 3 Agustus perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan. Siaga hujan lebat – sangat lebat di Aceh, Sumatra Barat, Bengkulu.
Angin kencang dapat terjadi di Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Periode 4 – 6 Agustus 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Kalimantan Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.
Angin kencang di Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
