Darilaut - Atmosfer di Indonesia masih dipengaruhi oleh fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Memasuki Dasarian II Oktober 2026, kombinasi kedua fenomena iklim tersebut cenderung menghambat pertumbuhan awan hujan dan mengurangi pasokan kelembapan di sebagian wilayah Indonesia. Akibatnya, kondisi atmosfer yang relatif kering diprakirakan masih bertahan di sejumlah wilayah, sehingga perlu menjadi perhatian terhadap potensi berlanjutnya kekeringan, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Terutama di daerah yang telah mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan. Sejalan dengan kondisi tersebut, prakiraan curah hujan pada Dasarian II Oktober 2026 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kategori Rendah (0–50 mm/dasarian) sebesar 66,09%, diikuti kategori Menengah (50–150 mm/dasarian) sebesar 32,67%, dan Tinggi (150–300 mm/dasarian) sebesar 1,24%. Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan curah hujan kategori rendah diprediksi mendominasi sebagian besar Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian tengah hingga selatan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Dominasi curah hujan rendah ini menunjukkan bahwa potensi kekeringan meteorologis masih perlu diwaspadai, khususnya pada wilayah yang mengalami defisit curah hujan secara berkelanjutan. Meskipun kondisi kering masih mendominasi, kata BMKG, peluang terjadinya hujan tetap terbuka di sejumlah wilayah Indonesia akibat pengaruh dinamika atmosfer regional dan lokal. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau di sebagian kecil Kalimantan Utara. Selain itu, zona perlambatan dan pertemuan angin diprakirakan terbentuk di Sumatra, Jawa bagian barat, Kalimantan, dan Papua. Dengan suhu muka laut yang relatif hangat, kondisi tersebut dapat mendukung peningkatan kelembapan dan pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah. Oleh karena itu, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal, meskipun secara umum kondisi atmosfer Indonesia masih cenderung kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung. Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.