Era Baru yang Berbahaya Bagi Jurnalis

Ilustrasi. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Jurnalis menghadapi era baru yang berbahaya. Di seluruh dunia, terutama di zona konflik, jurnalis menghadapi bahaya yang tak terduga.

Mereka sering kali, secara keliru, dianggap sebagai target yang sah.

Kepala Koresponden Internasional CNN, Clarissa Ward, mengatakan kepada UN News bahwa “kita telah memasuki era baru yang sangat berbahaya di mana jurnalis telah menjadi sasaran empuk”.

Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amina J. Mohammed mengatakan pers bebas sangat penting untuk perdamaian dan kepercayaan di era digital.

Menurut Amina pers yang bebas dan independen tetap menjadi fondasi perdamaian dan keadilan.

Dalam memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia  (World Press Freedom Day), Amina menekankan bahwa pelaporan yang kredibel dapat membantu melawan disinformasi dan mendorong pemahaman yang lebih besar.

Ia juga menegaskan kembali bahwa kebebasan berekspresi, penggunaan teknologi yang etis, dan keselamatan jurnalis sangat penting untuk masyarakat yang damai.

Pemadaman Internet

Selama dua tahun terakhir, setidaknya telah terjadi 300 pemadaman internet di lebih dari 54 negara, yang sangat membatasi akses masyarakat terhadap informasi, menurut UNESCO.

Pemadaman dapat mengambil berbagai bentuk, seperti pemblokiran total internet atau pemblokiran akses ke platform media sosial.

Pemadaman besar pertama terjadi di Mesir pada tahun 2011, selama protes di Lapangan Tahrir.

Iran telah mengalami pemadaman internet selama 66 hari, memutus akses bagi 90 juta orang dan mengancam akses terhadap informasi.

Tahun 2024 merupakan tahun terburuk yang tercatat untuk pemadaman internet sejak 2016.

Kebebasan Berekspresi

Kebebasan berekspresi secara global menurun menurut UNESCO yang menyatakan bahwa sensor diri juga meningkat secara signifikan di tengah rezim otoriter.

Laporan Tren Dunia dalam Kebebasan Berekspresi dan Pengembangan Media menunjukkan penurunan kebebasan berekspresi sebesar 10 persen sejak tahun 2012.

Sylvie Coudray dari UNESCO mengatakan bahwa penurunan tersebut “hanya mencerminkan tiga momen dalam abad terakhir.” Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan puncak Perang Dingin.

Exit mobile version