Darilaut – Eutrofikasi dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Kondisi ini hasil interaksi antara dinamika nutrien di perairan dan aktivitas manusia di daratan yang terus meningkat.
isu eutrofikasi tidak hanya persoalan ekologis semata, akan tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas dan kompleks.
Menurut Prof. Ario Damar dari Department of Aquatic Resources Management, FPIK IPB University, proses ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan secara keseluruhan.
Dampaknya tidak berhenti pada aspek lingkungan. Penurunan oksigen terlarut akibat dekomposisi biomassa alga dapat menyebabkan kematian massal organisme laut, yang pada akhirnya memengaruhi sektor perikanan, kesehatan manusia, hingga ekonomi masyarakat pesisir.
“Eutrofikasi terjadi akibat kelebihan nutrien, terutama nitrogen dan fosfor, yang masuk ke perairan dari berbagai sumber seperti limbah domestik, pertanian, dan industri,” kata Prof. Ario dalam kegiatan IMBF Webinar Series 2026 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis (16/4).
Prof. Ario yang mmebawakan materi berjudul “Eutrophication as a Massive Ecological and Societal Problem” mengatakan akumulasi nutrien ini memicu ledakan pertumbuhan fitoplankton atau algal bloom.
Ledakan alga pada kondisi tertentu dapat bersifat berbahaya dan menurunkan kualitas air secara signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan laut memiliki keterkaitan langsung dengan kesejahteraan manusia, Prof. Ario.
Prof. Ariomenekankan pentingnya pendekatan pengelolaan terpadu berbasis daerah aliran sungai (DAS) dan wilayah pesisir untuk mengurangi beban nutrien yang masuk ke laut.
Eutrofikasi merupakan tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius dari komunitas ilmiah, pemerintah, dan masyarakat luas. Pendekatan ilmiah yang kuat harus disertai aksi nyata di lapangan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia.
“Upaya mitigasi tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga memerlukan kebijakan yang kuat, kesadaran masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor,” kata Prof. Ario.
Dinamika nutrien dan eutrofikasi menjadi isu krusial yang tidak hanya memengaruhi proses ekologis di laut, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan ekosistem, produktivitas perairan, hingga keberlanjutan pengelolaan wilayah pesisir.
Fenomena ini mencerminkan keterkaitan erat antara aktivitas manusia di daratan dan kualitas lingkungan laut yang semakin tertekan.
“Webinar kali ini mengangkat topik yang sangat relevan terkait dinamika nutrien dan eutrofikasi di ekosistem laut Indonesia,” ujar Idha Yulia Ikhsani, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Oseanologi BRIN yang juga Wakil Ketua IMBF.
Idha menjelaskan bahwa pentingnya isu nutrien dan eutrofikasi karena tidak hanya berkaitan dengan proses ilmiah di lautan, tetapi juga memiliki implikasi langsung terhadap kesehatan ekosistem yang tercermin dalam Ocean Health Index.
Selain itu, kata Idha, kondisi ini turut memengaruhi produktivitas perairan dan pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini serta kehadiran para narasumber. Harapannya, diskusi ini dapat memberikan wawasan baru, memperkuat jejaring kolaborasi lintas institusi, serta mendorong kontribusi nyata dalam memahami dan mengelola isu nutrien dan eutrofikasi di Indonesia,” ujarnya.
