Evaluasi juga menghasilkan temuan penting terkait formulasi model. Perhitungan ulang menunjukkan skenario yang menggunakan data arus total dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS), tanpa tambahan dorongan angin melalui formula leeway, memberikan hasil yang lebih sesuai dengan fakta temuan.
Kondisi benda atau jasad yang mengapung hampir rata dengan permukaan air dapat membuat pengaruh angin terhadap pergerakannya berbeda dari asumsi sebelumnya, kata Prof. Widodo.
“Struktur modelnya tidak perlu diubah, bagian itu sudah teruji. Yang kami koreksi adalah bobot skenario dari delapan skenario berbobot sama menjadi hanya empat skenario Bangka Pos,” ujar Prof. Widodo, mengutip Brin.go.id.
“Kami juga mencoba satu rumus atau formula baru khusus jasad, tetapi rumus itu justru memberi hasil lebih buruk.”
Berdasarkan evaluasi tersebut, tim melakukan simulasi ulang untuk periode 7–21 September 2026 hingga pukul 23.00 WIB, atau hari ke-14 sejak kejadian. Simulasi terbaru difokuskan pada koordinat versi Bangka Pos dan selanjutnya akan dikembangkan hingga 5 Oktober 2026.
Hasil pembobotan ulang hingga hari ke-14 menunjukkan sebaran probabilitas yang terbagi ke sejumlah wilayah. Sekitar 41 persen berada di Pulau Enggano dan sekitarnya, 10 persen di perairan lepas barat Bengkulu Selatan, dan 43 persen menuju Samudra Hindia barat Bengkulu. Secara kumulatif, sekitar 42 persen sebaran model telah berada pada kondisi terdampar di pantai.



