Darilaut - Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau Food and Agricultural Organization of the United Nations (FAO) memperingatkan meskipun ada komitmen internasional, belum ada kemajuan nyata dalam mengurangi kehilangan pangan sejak tahun 2015. Menurut FAO, dunia pun masih jauh dari pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk memangkas separuh limbah makanan per kapita global pada tahun 2030. Program Lingkungan PBB (UNEP) melaporkan limbah makanan menjadi faktor pendorong utama krisis iklim. Limbah makanan yang membusuk menyebabkan hingga 10 persen dari total emisi gas rumah kaca global—lima kali lebih banyak dibandingkan seluruh sektor penerbangan—demikian peringatan UNEP. Selain upaya menghabiskan makanan di piring sendiri, berbagai sarana efektif untuk mengurangi emisi metana juga sedang diterapkan di seluruh dunia. Sebelas pemerintah di Afrika berkomitmen mengurangi emisi metana dengan mengintegrasikan para pemulung ke dalam sistem pengelolaan sampah formal, serta melatih mereka cara memilah dan mengomposkan sampah organik. Berkat pendanaan dari Climate and Clean Air Coalition yang diprakarsai UNEP, inisiatif-inisiatif ini telah meningkatkan taraf hidup pemulung, meningkatkan kesadaran akan pemilahan sampah, dan mendorong terciptanya lokasi pengomposan berbasis komunitas. Sebagai alternatif pengomposan, lalat tentara hitam (black soldier fly) yang dikembangbiakkan di fasilitas khusus di berbagai belahan dunia kini dimanfaatkan untuk mendaur ulang bahan organik. Dari Malawi hingga Uganda, serangga yang bermanfaat ini telah menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah di semakin banyak desa dan kota. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi ancaman tersebut, mulai dari penggunaan lalat tentara hitam (black soldier flies) hingga pemberdayaan pemulung di seluruh dunia. Melansir UN News, limbah makanan mencakup segala hal, mulai dari sisa makanan yang tidak habis disantap hingga hasil panen yang rusak (yaitu makanan yang hilang setelah panen namun sebelum sampai ke toko). Akan tetapi, jenis limbah dapur yang paling mencemari adalah makanan busuk yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Ketika bahan organik—seperti makanan yang tidak habis dimakan—tertimbun di TPA dan tidak mendapatkan oksigen, bahan tersebut berinteraksi dengan mikroorganisme dan menghasilkan metana. Gas rumah kaca ini—yang saat ini menjadi penyebab hampir sepertiga pemanasan global—sangat berbahaya bagi lingkungan. PBB memperingatkan bahwa gas ini memerangkap panas 86 kali lebih banyak dibandingkan karbon dioksida dalam kurun waktu 20 tahun.