Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial masih diprakirakan aktif di sebagian besar Sumatra, Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Natuna, Laut Cina Selatan, sebagian Kalimantan, hingga Pasifik barat.
Selain itu, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator juga diprakirakan aktif di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Samudra Pasifik utara Papua.
BMKG mengatakan kombinasi fenomena tersebut dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan mendukung pembentukan awan hujan, terutama pada wilayah yang dilaluinya. Potensi hujan juga diperkuat oleh adanya pusat tekanan rendah di Samudra Pasifik utara Papua, sirkulasi siklonik di Selat Makassar, serta terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi ini menyebabkan massa udara berkumpul dan terangkat sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan.
Dengan demikian, meskipun secara umum curah hujan masih diprakirakan rendah di sebagian besar Indonesia, hujan dengan intensitas bervariasi masih berpotensi terjadi secara lokal, terutama di wilayah yang dipengaruhi oleh gangguan atmosfer tersebut.
Potensi hujan sepekan ke depan, periode 21 – 23 Agustus 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Papua.




