Sebelum pelaksanaan kegiatan lapangan, tim terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Bareskrim dan BPHL Medan. Pengambilan data difokuskan pada lokasi-lokasi yang mengalami penumpukan kayu dalam jumlah besar akibat bencana, di antaranya Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan pada DAS Garoga; Desa Muara Sibuntuon, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah; serta Desa Tamiang di Aceh. Selain itu, tim juga menjadwalkan survei lanjutan di Pantai Parkit, Sumatra Barat.
Dalam kegiatan lapangan, tim melakukan pengambilan sampel kayu dan tanah untuk dianalisis lebih lanjut. Selain itu, dibuat plot pengamatan guna menghitung volume kayu yang terbawa banjir dan longsor. Analisis ini mencakup pemetaan persentase kayu yang berasal dari aktivitas penebangan, tumbang alami akibat pelapukan, maupun kayu yang tercabut dari tanah karena longsor dan banjir.
Identifikasi jenis kayu dilakukan melalui analisis struktur anatomi kayu, yang merupakan keahlian utama tim forensik kayu BRIN dan Xylarium Bogoriense. Untuk meningkatkan akurasi, Laboratorium Genetika Hutan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, yang tergabung dalam konsorsium WoodID Indonesia, akan melakukan pengujian lanjutan menggunakan teknologi DNA serta DART TOFMS (Direct Analysis in Real Time-Time of Flight Mass Spectrometry).




