Darilaut – Gempa bumi di Teluk Tomini magnitudo (M) 5,4 dengan jarak 21 km timur laut Pulaupuah, Sulawesi Tengah.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, mengatakan, berdasarkan parameter sumbernya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman Sulawesi.
Gempa yang terjadi Kamis (22/1) pukul 05.44.45 WIB atau 06.44.45 Wita, berpusat pada koordinat 0,31 LS – 122,63 BT, di kedalaman 64 km.
Berdasarkan data dari GFZ (GeoForschungsZentrum), episenter gempa bumi berada pada koordinat 0,226 LS – 122,683 BT dengan magnitudo M 5,4 pada kedalaman hiposenter 86,1 km.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa ini dirasakan pada skala MMI (Modified Mercalli Intensity) dengan intensitas II-III di Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Bone Bolango, Kabupaten Pohuwatu, dan Kabupaten Boalemo.
Data Badan Geologi, daerah ini terletak pada Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Tinggi. Kejadian gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena berkekuatan relatif kecil dan tidak menghasilkan deformasi dasar laut, serta diharapkan tidak menimbulkan kerusakan di wilayah terdampak.
Lokasi episenter gempa bumi terletak di laut, kata Pusat Vulkanologi. Kondisi daerah terdekat dengan episenter gempa bumi memiliki morfologi dataran dan berombak.
Menurut Pusat Vulkanologi litologi penyusun wilayah ini terdiri atas Batuan Karbonat berumur kuarter. Batuan yang telah mengalami pelapukan dan/ atau sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi.
Berdasarkan data tapak lokal vs30, kata Pusat Vulkanologi, wilayah terdekat dengan episenter gempa bumi diklasifikasikan ke dalam Kelas Tanah C (tanah sangat padat dan batuan lunak).
Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti bahwa potensi guncangan gempa bumi di area tersebut bisa terasa lebih intens, menurut Pusat Vulkanologi.
Pusat Vulkanologi mengimbau masyarakat melakukan pemeriksaan mandiri terkait kondisi bangunan setelah terjadi gempa bumi. Masyarakat diimbau mengamati dan mematuhi rambu evakuasi.
Masyarakat diimbau menjauhi daerah tebing yang berpotensi terjadi gerakan tanah, terutama saat terjadi hujan, kata Pusat Vulkanologi.
Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak diikuti oleh bahaya ikutan, seperti retakan tanah, penurunan lahan, likuefaksi dan longsoran.
Pusat Vulkanologi merekomendasikan bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi.
