Darilaut – Geopark mencakup kawasan yang meliputi segala keragaman. Wilayah geografi tunggal atau gabungan tersebut memiliki situs warisan geologi (Geosite) dan bentang alam yang bernilai.
Dalam geopark ada aspek warisan geologi (Geoheritage), keragaman geologi (Geodiversity), keanekaragaman hayati (Biodiversity), dan keragaman budaya (Cultural Diversity), serta dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi dan pembangunan berkelanjutan.
Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Sumber Daya Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Chusni Ansori, mengatakan, terdapat dua jenis geopark. Pertama, geopark nasional, dan kedua, geopark yang diakui secara internasional melalui UNESCO.
Persyaratan untuk menjadi Geopark Nasional di antaranya ditetapkan sebagai Geoheritage. Geoheritage memiliki keterkaitan dengan biodiversity dan cultural diversity.
Pengelola geopark memiliki rencana induk dan memenuhi pedoman teknis pengembangan geopark nasional. Pengelola geopark menunjukkan upaya melaksanakan rencana induk geopark paling singkat enam bulan sejak dibentuk, kata Chusni.
Persyaratan geopark internasional, menurut UNESCO, pengelola menunjukan upaya melaksanakan rencana induk geopark paling singkat satu tahun sejak dibentuk.
Kemudian, menyusun proposal pengusulan untuk menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp), dan memenuhi pedoman teknis pengembangan UNESCO Global Geopark.
Geopark sebagai bentuk pelestarian sumberdaya geologi bertujuan untuk pelestarian, pemanfaatan, pengelolaan kawasan situs pelestarian geologi secara Holistik bersama sumber daya alam lainnya untuk untuk pembangunan berkelanjutan.
Dalam pengembangan Geopark, kata Chusni, memerlukan adanya proses riset dan inovasi dalam konteks geopark.
Riset yang dilakukan terkait geopark di antaranya mengenai geo-culture, geo-arkeologi, geo-botani, geo-pedologi, geotrail, geotourism & leisure, geoproduct, geo-homestay dan banyak lagi.
Selain hal tersebut juga inovasi yang dapat dihasilkan,misalnya, melalui pembangunan museum, pembangunan pusat informasi, membuat infografis yang dapat dipahami masyarakat, dapat juga berupa animasi, film atau video, katalog, maskot ataupun arboretum.
Chusni mengatakan riset dan inovasi merupakan sesuatu yang penting dalam mengembangkan geopark.
Hasil riset dikembangkan dari sisi gagasan, metode, ataupun alat sehingga akan menghasilkan sesuatu yang baru.
Guru Besar Teknik Geologi Universitas Padjajaran, Mega Fatimah, mengatakan dalam mengembangkan geopark, perguruan tinggi atau lembaga penelitian dan pengembangan tidak bisa bergerak sendiri.
Kita mengusung unsur penta helix (perguruan tinggi, pemerintah, industri (businessman), masyarakat lokal, dan media). Kita harus mengajak stakeholder untuk mendukung pengembangan geopark ini, kata Mega.
Mega mengajak untuk mengembangkan berbagai topik riset dari berbagai pendekatan disiplin ilmu dan teknologi sesuai dengan karakteristik wilayah/ kondisi geologi dari geopark. Caranya dengan mengangkat topik lokal untuk untuk dipromosikan ke tingkat global.
Menurut Wakil Ketua I Jaringan Geopark Indonesia (JGI) Abdillah Baraas, untuk mengelola serta mengembangkan sebuah geopark perlu adanya riset dengan melibatkan akademisi.
Akademisi mempunyai peranan penting dan utama dalam pengembangan geopark, layaknya kemasan sebuah produk yang harus terus diperbaharui.
Selain itu keterlibatan media dalam mendiseminasikan hasil-hasil penelitian sangat diperlukan, kata Abdillah.
Akademisi adalah insan penghasil pemikiran baru dan kemudian media adalah penyalur ide-ide dan gagasan tersebut agar bisa tersampaikan langsung kepada masyarakat luas tanpa adanya jarak yang berarti.
