Darilaut – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat bahwa pada September 2025, Provinsi Gorontalo mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 1,99 persen. Inflasi ini menunjukkan adanya kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, dengan pendorong utama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik sebesar 4,01 persen.
Dari dua wilayah IHK di Gorontalo, Kabupaten Gorontalo mencatat inflasi lebih tinggi yakni 2,11 persen, sementara Kota Gorontalo berada di angka 1,83 persen. Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Gorontalo justru mengalami deflasi sebesar 0,12 persen, menandakan adanya penurunan harga pada beberapa komoditas pokok tertentu.
Plt. Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menjelaskan bahwa inflasi tahunan masih tergolong terkendali dan berada di bawah ambang batas nasional.
“Kenaikan harga pada komoditas pangan seperti beras, ikan layang, bawang merah, dan telur ayam ras masih menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi. Sementara itu, penurunan harga pada cabai, cumi-cumi, dan tomat memberi efek penahan inflasi”.
BPS juga mencatat, kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan kenaikan 6,38 persen, diikuti kelompok pendidikan (2,02 persen) dan kelompok penyediaan makanan/minuman (1,95 persen).
Sementara itu, beberapa kelompok mengalami deflasi, seperti kelompok perlengkapan rumah tangga (-2,86 persen) dan transportasi (-0,06 persen), terutama akibat penurunan harga tiket pesawat dan tarif ojek daring.
Secara keseluruhan, inflasi di Gorontalo pada September 2025 menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif stabil, meski masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga pangan. BPS menegaskan pentingnya penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjaga kestabilan pasokan bahan pokok menjelang akhir tahun. (Novita J. Kiraman)
