Darilaut – Hasil analisis Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau masih status Siaga atau berada pada Level III (Siaga) hingga Jumat (11/9). Sementara delapan orang hilang di Selat Sunda, termasuk lima jurnalis masih dalam pencarian tim SAR (Search and Rescue) gabungan.
Erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB telah berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung selama sekitar 25 jam.
Setelah periode erupsi menerus tersebut berakhir, hingga Jumat (11/9) pukul 06.00 WIB masih tercatat 14 kali erupsi Strombolian.
Erupsi menerus merupakan aktivitas erupsi yang berlangsung secara berkesinambungan dalam periode waktu yang panjang. Sementara itu, erupsi Strombolian terjadi secara episodik dalam bentuk letusan-letusan yang terpisah.
Dengan demikian, berakhirnya erupsi menerus tidak berarti seluruh aktivitas erupsi berhenti. Dalam perkembangan terakhir, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dalam bentuk letusan Strombolian.
Badan Geologi untuk sementara menginterpretasikan kembalinya karakteristik erupsi Strombolian tersebut sebagai berakhirnya periode erupsi menerus yang cukup panjang.
Kegempaan dan Potensi Bahaya
Dari sisi kegempaan, gempa vulkanik yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dangkal, yaitu gempa Low Frequency dan Hybrid/Fase Banyak, masih berfluktuasi dengan kecenderungan menurun sejak berakhirnya erupsi menerus. Nilai perataan amplitudo RSAM yang sempat meningkat pada Sabtu (5/9) juga kembali menurun sejak Minggu (6/9).




