Habitat Ikan Purba Raja Laut Coelacanth di Pulau Talise Akan Diusulkan Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO

Ikan raja laut

Pada 24 September 2009 tim riset memotret enam individu ikan purba Raja Laut Coelacanth di Pulau Talise, Sulawesi Utara. FOTO: DINOFISH.COM

Darilaut – Pemerintah bersama para peneliti berencana untuk mengusulkan habitat ikan purba Raja Laut Coelacanth di Pulau Talise, Sulawesi Utara, sebagai situs warisan dunia UNESCO.

Hal ini disampaikan peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Augy Syahailatua bersama Prof. Kawilarang Warouw Alex Masengi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, dalam Simposium “Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact” di Jakarta, Kamis (23/7).

Prof. Augy menjelaskan bahwa proses pembentukan kawasan konservasi telah memasuki tahap penting. Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyerahkan dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menetapkan perairan Pulau Talise sebagai kawasan konservasi atau taman suaka habitat Coelacanth.

Setelah penetapan kawasan konservasi nasional selesai, pemerintah bersama para peneliti berencana mengusulkan habitat Coelacanth Pulau Talise sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kawasan tersebut berada di wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di dunia.

Menurut Augy, kawasan tersebut tengah dipersiapkan menjadi kawasan konservasi khusus melalui konsultasi publik, pembahasan bersama pemerintah daerah, serta koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Menurut Augy temuan-temuan tersebut semakin menguatkan urgensi perlindungan habitat Coelacanth di Pulau Talise.

“Konservasi Coelacanth tidak hanya bertujuan melindungi spesies langka, tetapi juga mendukung pengembangan riset ilmiah, pendidikan, dan ekowisata berbasis konservasi,” ujar Augy seperti dikutip dari Brin.go.id.

”Keberadaan Coelacanth memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat penelitian biodiversitas laut dunia.”

Ikan purba Raja Laut Coelacanth. FOTO: DINOFISH.COM

18 Individu di Pulau Talise

Hasil riset terbaru, sebanyak 18 individu ikan purba Raja Laut Coelacanth ditemukan di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara.

Temuan 18 individu ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di Pulau Talise tersebut memperkuat bukti bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi salah satu spesies laut paling langka di dunia.

Hal ini disampaikan Prof. Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado bersama peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Augy Syahailatua, dalam Simposium “Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact” di Jakarta, Kamis (23/7).

Riset tersebut menjadi pijakan ilmiah bagi penguatan upaya konservasi, termasuk usulan pembentukan kawasan konservasi khusus yang diproyeksikan berkembang menjadi situs konservasi berkelas dunia.

Penelitian yang telah dijalankan menunjukkan Pulau Talise memiliki nilai ekologis yang sangat penting bagi kelangsungan hidup Coelacanth. Temuan terbaru ini semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu habitat utama spesies purba yang telah bertahan selama sekitar 400 juta tahun.

Rangkaian riset Coelacanth selama lebih dari 20 tahun menunjukkan bahwa eksplorasi ilmiah tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru mengenai populasi, habitat, dan reproduksi spesies purba tersebut, tetapi juga menyediakan bukti ilmiah yang menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi. Temuan-temuan ini diharapkan menjadi fondasi bagi perlindungan Coelacanth dan ekosistem laut dalam Indonesia secara berkelanjutan.

Konservasi Coelacanth

Ikan purba yang juga disebut fosil hidup belum lama ini ditemukan di dekat perairan Pulau Siladen, Taman Nasional Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat 26 Juni pagi.

Ikatan Sarjana Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (ISKU) menilai temuan ikan purba Raja Laut di perairan Pulau Siladen, penting bagi konservasi Coelacanth di Indonesia.

Penemuan ini diharapkan dapat memberikan tambahan data penting bagi penelitian dan upaya konservasi Coelacanth di Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa perairan Sulawesi Utara masih menjadi habitat penting bagi spesies purba yang sangat langka tersebut, demikian hasil kajian ISKU.

Ikan purba Raja Laut (Coelacanth) dalam posisi mengapung di perairan dekat Pulau Siladen, Taman Nasional Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (26/6) pagi. POTONGAN VIDEO: LUTHER KAMPONG

Menurut ISKU, perairan Sulawesi Utara dikenal sebagai lokasi penemuan pertama spesies dengan nama ilmiah Latimeria menadoensis pada tahun 1998. Sudah beberapa kali penemuan Coelacanth yang juga disebut “fosil hidup” di beberapa lokasi, seperti di Teluk Manado, dan lain-lain.

Penemuan ini menjadi perhatian karena Coelacanth merupakan salah satu spesies ikan paling langka di dunia dan memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi.

Setelah penemuan tersebut, ikan segera ditangani oleh Tim Coelacanth Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk dilakukan identifikasi, pendokumentasian, dan penanganan sesuai prosedur ilmiah.

Fosil Hidup

Ikan Raja Laut disebut juga ikan purba dan fosil hidup habitatnya di lereng berbatu di perairan dalam dan ditemukan juga pada gua karbonat. Sebaran di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo Utara, Buol Sulawesi Tengah, Biak dan Raja Ampat Papua, dan Maluku Utara.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 tahun 2025,  ikan Raja Laut termasuk jenis ikan yang dilindungi.

Raja Laut memiliki bentuk yang khas dan mudah dibedakan. Bentuk sisik ikan ini berbeda secara signifikan di beberapa bagian tubuh. Ukuran sisik juga berbeda di setiap bagian tubuh.

Exit mobile version