Hari Kesadaran Tsunami Sedunia: Kisah Tentang Smong dari Pulau Simeulue Aceh

Ilustrasi Ayo Kita Siaga Tsunami. ISTIMEWA

Darilaut – Pengetahuan dan kekuatan kearifan lokal dapat mengurangi risiko bencana, seperti pada peristiwa tsunami. Salah satunya, kisah tentang smong yang berasal dari Pulau Simeulue di Kabupaten Aceh.

Pengetahuan lokal yang berasal dari Pulau Simeulue Provinsi Aceh tersebut terbukti menyelamatkan nyawa.

Tsunami jarang terjadi. Namun, hanya dalam hitungan menit dapat mencapai pesisir, setelah gempa bumi atau gangguan mendadak lainnya.

Hari Kesadaran Tsunami Sedunia (World Tsunami Awareness Day) diperingati setiap tanggal 5 November.

Menurut United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) atau Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana, tekadang tsunami datang lebih cepat sebelum peringatan resmi dikeluarkan.

Pengetahuan yang dimiliki masyarakat serta tindakan yang mereka ambil pada menit-menit awal tersebut sering kali menjadi penentu siapa yang akan selamat.

Mereka bertindak berdasarkan konsep smong, sebuah istilah yang diwariskan secara turun-temurun oleh penduduk setempat melalui lagu pengantar tidur dan cerita rakyat sejak tsunami melanda Simeulue pada tahun 1907.

Istilah ini merujuk pada rangkaian peristiwa tersebut: gempa bumi, surutny air laut, dan gelombang raksasa yang menyusul kemudian.

Kisah lokal berusia seabad menyelamatkan ribuan nyawa pada 26 Desember 2004 —dan berpotensi menyelamatkan lebih banyak lagi di masa depan.

Alfi Rahman, Peneliti di Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC), Universitas Syiah Kuala dan Stephen A. Sutton, mahasiswa doktoral di Charles Darwin University menguraikan kisah tersebut di Conversation Media Group (theconversation.com).

Salah satu cara penting untuk mewujudkannya dengan mengutamakan pengetahuan lokal tradisional serta ingatan kolektif mengenai peristiwa-peristiwa masa lalu.

Kerangka Kerja Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (DRR), atau Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) 2015–2030, telah menekankan pentingnya memanfaatkan pengetahuan lokal.

Untuk mengurangi risiko bencana, kita perlu membangun dinamika sosial yang memperkuat pengetahuan lokal, baik pada tingkat individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

Salah satu contoh penting pengetahuan lokal yang terbukti menyelamatkan nyawa berasal dari Pulau Simeulue di Kabupaten Aceh, yakni kisah tentang smong. Pada 26 Desember 2004, seorang pelajar bernama Almahdi sedang merokok di atas jembatan tinggi yang melintasi sungai di Banda Aceh.

Lahir di Simeulue, saat gempa bumi terjadi dan air laut surut, ia tahu apa yang akan menyusul. Ia pun berteriak, “Smong! Smong! Lari! Lari!”

Namun, orang-orang di sekitarnya justru memandangnya seolah-olah ia orang gila. Mereka tidak memahami arti kata smong dan tidak melarikan diri. Dalam waktu satu jam, banyak dari mereka tewas.

Almahdi selamat, tetapi ia tidak mengetahui apakah rekan-rekannya di kampung halaman, di Pulau Simeulue, juga selamat. Laporan resmi menyebutkan bahwa “Simeulue tenggelam”, sehingga selama lebih dari seminggu ia terus diliputi kekhawatiran akan kemungkinan terburuk.

Pengetahuan Almahdi tentang smong berasal dari peristiwa pada 4 Januari 1907. Gempa berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang Kepulauan Simeulue, dan tak lama kemudian, tsunami dahsyat meluluhlantakkan pesisir Simeulue.

Sejak hari itu, segelintir penyintas bertekad untuk mengenang keluarga yang telah tiada sekaligus menyelamatkan keturunan mereka dengan mewariskan kisah tentang smong kepada anak dan cucu mereka.

Hampir 100 tahun kemudian, pada 26 Desember 2004, seluruh penduduk Simeulue yang berjumlah 70.000 jiwa kembali diingatkan akan smong oleh gempa berkekuatan 9,2 magnitudo. Mereka segera berlari menuju perbukitan dan menyaksikan gelombang raksasa menghancurkan rumah-rumah mereka.

Kearifan lokal smong, yang terus dijaga selama 97 tahun, berhasil menyelamatkan nyawa mereka.

Istilah smong menarik perhatian para peneliti internasional yang ingin mendalami fenomena tersebut. Smong merupakan pengetahuan lokal masyarakat Simeulue –sebelum tahun 2004– tidak diketahui oleh pihak luar.

Pada 12 Oktober 2005, United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) menganugerahkan UN Sasakawa Award kepada masyarakat Simeulue. Penghargaan tersebut diserahkan di Bangkok, Thailand, sebagai bentuk apresiasi sekaligus dorongan atas upaya mereka dalam berkontribusi pada budaya global pencegahan bencana, yang sejalan dengan tujuan strategi internasional untuk pengurangan risiko bencana.

Kini, kebanggaan mereka terhadap kata smong telah menyebar ke seluruh Aceh dan mulai diadopsi dalam upaya mitigasi bencana gempa bumi serta tsunami.

Masyarakat Simeulue, yang merasa bersyukur atas dukungan negara dalam proses rekonstruksi pasca-2004, berkeinginan untuk mengangkat smong ke tingkat nasional. Mereka ingin mempersembahkan smong sebagai kontribusi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut mereka, kata smong sepatutnya menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia, sekaligus menjadi landasan bagi pemahaman baru mengenai bencana tsunami.

Smong siap menghadapi tantangan ini. Istilah ini telah teruji dalam bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 dengan hasil yang mengesankan. Keberadaan kata tersebut dalam bahasa setempat memberikan definisi (mengetahui apa itu) yang berkaitan dengan pemahaman (mengetahui bagaimana cara bertindak).

Pengetahuan ini mendorong masyarakat Simeulue untuk mengambil tindakan cepat dan tepat saat membaca tanda-tanda alam akan terjadinya gempa bumi dan tsunami.

Terdapat istilah lain untuk tsunami di berbagai wilayah kepulauan Indonesia. Di daratan utama, dikenal istilah Ie-beuna di Banda Aceh dan Aceh Besar, sementara di Singkil, masyarakat menyebut tsunami sebagai Gloro.

Namun, seiring berjalannya waktu, pengetahuan yang melekat pada kata-kata tersebut telah memudar. Akibatnya, banyak nyawa melayang.

Smong berasal dari bahasa Devayan di Simeulue dan merujuk pada rangkaian peristiwa—gempa bumi, surutnya air laut, dan gelombang raksasa—yang menjadi ciri khas kejadian tsunami di Indonesia.

Istilah ini disampaikan melalui nandong, yaitu lagu-lagu tradisional Simeulue:

Enggel mon sao curito (Dengarkanlah kisah ini)

Inang maso semonan (Dahulu kala)

Manoknop sao fano (Desa kita tenggelam)

Unen ne alek linon (Diawali dengan gempa bumi)

Fesang bakat nemali (Kemudian disusul oleh gelombang air)

Manoknop sao hampong (Menenggelamkan seluruh desa)

Tibo-tibo mawi (Segera)

Anga linon ne mali (Jika terjadi gempa bumi yang kuat)

Uwek suruik sahuli (Diikuti oleh surutnya air laut)

Maheya mihawali (Bergegaslah)

Fano me senga tenggi (Larilah ke tempat yang lebih tinggi).

Masyarakat Simeulue dengan cerdas menutup seluruh kisah tersebut dengan kalimat: Eda Smong kahanne (Itulah yang kami sebut smong).

Lagu yang sangat menggugah perasaan ini sering dinyanyikan dalam pertemuan sosial maupun pesta pernikahan. Jika dipadukan dengan penuturan kisah yang sama secara berulang, hal ini membentuk sebuah sistem yang sangat sederhana, namun memiliki kekuatan untuk menggerakkan orang banyak dan menyelamatkan nyawa.

Sumber: UNDRR, Preventionweb.net, Theconversation.com (Conversation Media Group)

Exit mobile version