Hari Tanpa Sampah Menyoroti Pentingnya Memperkuat Pengelolaan Secara Global

Hari Tanpa Sampah Internasional (International Day of Zero Waste), yang diperingati pertama kali pada tanggal 30 Maret 2023. GAMBAR: UNEP-UN HABITAT/YOUTUBE

Darilaut – Sampah dan limbah telah mempercepat krisis tiga planet yaitu perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi.

Untuk itu, Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Program Pemukiman Manusia PBB (UN-Habitat) memfasilitasi Hari Tanpa Sampah Internasional (International Day of Zero Waste), yang diperingati pertama kali pada tanggal 30 Maret 2023.

Hari Tanpa Sampah Internasional, menyoroti pentingnya memperkuat pengelolaan sampah secara global dan perlunya mendorong pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Diperingati tanggal 30 Maret, Hari Tanpa Sampah bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya nol sampah dan konsumsi yang bertanggung jawab.

Hari ini menyerukan untuk memikirkan kembali praktik-praktik kita dan menerapkan ekonomi sirkular. Artinya, mengurangi penggunaan sumber daya dan emisi terhadap lingkungan di seluruh tahap siklus hidup produk, sebagai kunci untuk mengatasi krisis tiga planet, dan menempatkan planet ini, serta umat manusia, pada jalur menuju kesehatan dan kesejahteraan.

Setiap tahun, umat manusia menghasilkan antara 2,1 miliar hingga 2,3 miliar ton sampah kota. Sekitar 2,7 miliar orang tidak memiliki akses terhadap pengumpulan sampah, 2 miliar di antaranya tinggal di daerah pedesaan.

Polusi limbah secara signifikan mengancam kesejahteraan, kemakmuran ekonomi, dan mempercepat krisis tiga planet. Tanpa tindakan segera, timbulan sampah kota setiap tahunnya akan mencapai 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

Secara global, sekitar 25 persen sampah tidak dikumpulkan, sementara 39 persen tidak dikelola di fasilitas yang terkendali.

Pengelolaan limbah global menimbulkan total biaya bersih sebesar US$361 miliar setiap tahunnya. Dengan mengakhiri pembuangan yang tidak terkendali, mengurangi timbulan sampah, dan meningkatkan daur ulang, pemerintah dapat menghasilkan keuntungan bersih tahunan sebesar US$108,1 miliar pada tahun 2050.

Jaringan One Planet (One Planet Network) —komunitas global yang terdiri dari para praktisi, pembuat kebijakan, dan pakar— dapat membantu mendorong perubahan ini dengan mendorong kolaborasi.

Salah satu proyek tersebut ada di Ambon, Indonesia. Proyek ini mempertemukan kelompok wirausaha sosial dan pemerintah daerah dengan memberikan pelatihan dan kesempatan kerja kepada pemulung lokal dan mendanai fasilitas pengelolaan sampah yang lebih baik.

Dengan memulihkan material, mendesain ulang produk, memperkuat pengelolaan limbah, dan memprioritaskan penggunaan kembali, umat manusia dapat menerapkan pendekatan nihil limbah untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Exit mobile version