Darilaut – Sejumlah hipotesis perubahan perilaku paus pembunuh muncul sejak terjadi puluhan insiden dengan kapal di perairan Spanyol. Salah satunya karena ingin bermain dengan kapal.
Melansir Noonsite.com, dalam pertemuan bersama para ahli, peneliti, dan organisasi lingkungan diimgatkan kembali mengenai keberadaan paus orca, terutama sisi konservasi.
Para ahli biologi telah mempertimbangkan berbagai hipotesis tentang perubahan perilaku paus pembunuh di perairan Spanyol.
Kemunculan paus pembunuh di sepanjang pantai Galicia adalah hal biasa. Selama ini, kelompok paus pembunuh ini tidak pernah tinggal begitu lama atau berinteraksi dengan manusia.
Namun, insiden paus pembunuh dengan sejumlah kapal di perairan Spanyol masih membingungkan para peneliti dan ahli cetacea.
Ahli biologi Cristina Martín yang telah bertahun-tahun mempelajari cetacea besar ini setiap tahun, sebelum pergi ke utara, muncul di Selat Gibraltar untuk memangsa tuna.
Hasil pengamatan, paus pembunuh terbiasa berenang didekat kapal penangkap ikan. Paus pembunuh ini memangsa ikan, sementara para nelayan juga membawa hasil tangkapannya ke kapal.
Menurut Martín, paus pembunuh tersebut menemukan dengan penangkapan ikan ini mereka tidak lagi mengejar tuna yang berenang untuk jarak jauh.
Hal lain yang dikaitkan dengan perubahan perilaku paus pembunuh ini adalah pandemi Covid-19. Penguncian atau karantina di masa pandemi Covid-19, tidak menimbulkan kebisingan di laut.
Minimnya kebisingan di laut dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya perubahan perilaku. Masa penguncian Covid-19 menyebabkan keheningan di perairan tersebut.
Ahli biologi Ruth Esteban mengatakan, hewan-hewan itu secara akustik telah memperhatikan masa pembatasan (Covid-19) yang sangat hening.
Nelayan dan perahu rekreasi telah menghentikan segala aktivitas dan paus pembunuh mengetahui hal itu.
Namun, kata Esteban, masih sulit untuk menafsirkan hal tersebut. Para ahli belum mengetahui apa keingintahuan paus pembunuh ini tentang kapal. Mungkin terkait dengan tidak adanya kapal di laut selama bulan-bulan di masa pandemi.
Tim peneliti yang bekerja dan mengamati perkembangan menjelaskan dari tiga kelompok cetacea yang tersisa di perairan Galicia, hanya satu (kelompok) yang berinteraksi dengan perahu.
Terdapat dua individu paus pembunuh yang difoto para peneliti memiliki luka besar. Kemungkinan ini disebabkan kontak dengan kapal.
Jika pertemuan dengan kapal layar adalah reaksi terhadap pengalaman buruk, ini adalah sesuatu yang tidak berani dikonfirmasi oleh ahli biologi.
Dari semua hipotesis yang ada, paling banyak dibahas paus pembunuh ini ingin bermain dengan kapal. Ini yang menjadi alasan utama pertemuan paus pembunuh dengan kapal layar.
Mengapa kelompok paus pembunuh ada yang ingin bermain dengan kapal layar dan lainnya tidak, ini yang masih dipelajari.
Sebagai predator puncak di lautan paus pembunuh dikenal sebagai cetacea yang cerdas. Tidak pernah ada laporan terjadi insiden antara paus orca dengan manusia di laut di laut lepas. Kecuali, yang ada dalam penangkaran untuk hiburan.*
