Hujan Berpotensi Terjadi di Indonesia Saat El Niño Condition

Ilustrasi. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Pembentukan awan hujan berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meskipun berada dalam El Niño Condition.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan berdasarkan hasil analisis iklim global, kondisi ENSO saat ini berada pada kategori El Niño Condition, dengan nilai SOI sebesar -7,4 dan indeks NINO 3.4 sebesar +0,52.

Nilai tersebut mengindikasikan potensi penurunan aktivitas pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, khususnya bagian timur, kata BMKG.

Meskipun demikian, menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan masih berada pada fase 3 di Samudra Hindia, dengan hasil filter spasial aktif di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kondisi ini berpotensi mendukung peningkatan pembentukan awan konvektif di sejumlah wilayah Indonesia meskipun berada dalam El Niño Condition.

Dalam sepekan ke depan, kondisi atmosfer di wilayah Indonesia diprediksi masih dipengaruhi oleh beberapa aktivitas gelombang tropis.

Gelombang Kelvin yang berpropagasi ke arah timur diprediksi aktif di Laut Andaman, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Selat Malaka, Laut Natuna, Laut Natuna Utara, Selat Karimata, sebagian besar Kalimantan, Selat Makassar, Sulawesi bagian utara hingga tengah, Laut Maluku, Laut Halmahera, Maluku Utara, Maluku bagian utara, Laut Seram, Teluk Cendrawasih, dan Papua bagian utara hingga tengah.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat diprakirakan aktif di sebagian wilayah Jawa Timur, Selat Bali, Bali, Laut Bali, Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Laut Sawu, Laut Flores, dan Laut Timor.

Aktivitas gelombang tropis tersebut dapat membantu meningkatkan suplai uap air dan mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya, kata BMKG.

Selain pengaruh gelombang tropis, sirkulasi siklonik yang diprakirakan terbentuk di beberapa wilayah, seperti Samudra Hindia barat Sumatra Utara, Laut Jawa bagian timur, dan Samudra Pasifik timur laut Maluku Utara, turut mempengaruhi pola angin di sekitarnya.

Sistem ini dapat membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di sejumlah wilayah, antara lain Samudra Hindia barat Aceh, Sumatera Utara, Jawa Timur, NTB, NTT, Laut Halmahera, Samudra Pasifik utara Maluku Utara, serta di sekitar sirkulasi siklonik tersebut.

Menurut BMKG kombinasi antara aktivitas gelombang tropis, pola sirkulasi, belokan dan perlambatan angin, serta aktivitas konvektif yang didukung dengan kelembapan yang cukup berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah yang terdampak.

Exit mobile version