Darilaut – Indonesia rumah bagi 83 jenis Kantong Semar (Nepenthes spp.) atau sekitar 39,3% dari seluruh Nepenthes di dunia. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai pusat persebaran Nepenthes terbesar di dunia.
Dari 83 jenis, enam spesies Nepenthes Indonesia telah masuk kategori kritis menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature).
Daya tarik Nepenthes tidak hanya terletak pada bentuk kantongnya yang eksotis. Tumbuhan karnivora ini memiliki strategi adaptasi yang luar biasa untuk bertahan hidup di lingkungan miskin hara.
Hal ini dikatakan Muhammad Mansur dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6). Mansur menyampaikan orasinya yang berjudul “Kantong Semar (Nepenthes spp.) di Indonesia: dari Keanekaragaman Hayati menuju Sistem Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan.”
Melalui modifikasi ujung daun menjadi kantong perangkap, Nepenthes memperoleh tambahan nutrisi dari serangga dan organisme kecil yang terjebak di dalamnya.
Proses pencernaan tersebut melibatkan enzim khusus yang dikenal sebagai nepenthesin, menjadikan Nepenthes sebagai bagian penting dari sistem ekologis yang kompleks.
Namun, keunikan tersebut justru membuat banyak spesies Nepenthes berada dalam kondisi rentan. Sebagian besar spesies di Indonesia bersifat endemik dan hanya ditemukan pada lokasi tertentu, bahkan ada yang hanya tumbuh di satu gunung atau satu kawasan terbatas.
Kondisi ini membuat kantong semar sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan, pertambangan, hingga dampak perubahan iklim.
“Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia menghadapi tekanan serius akibat hilangnya habitat, degradasi ekosistem, dan perdagangan ilegal,” kata Mansur seperti dikutip dari Brin.go.id.
Karena itu, Mansur mendorong penerapan strategi konservasi yang terintegrasi melalui pendekatan konservasi in situ maupun ex situ.
Kini, ketika enam spesies Nepenthes Indonesia telah masuk kategori kritis menurut IUCN dan membutuhkan prioritas konservasi segera, kiprah Mansur menjadi semakin relevan.
Penelitian, eksplorasi, dan advokasi yang dilakukannya selama puluhan tahun telah memberikan fondasi ilmiah yang kuat bagi upaya pelestarian kantong semar di Indonesia.
Bagi Mansur, setiap langkah di hutan bukan sekadar perjalanan ilmiah. Di balik setiap spesies yang ditemukan dan setiap habitat yang dipelajari, tersimpan sebuah misi besar: memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menyaksikan keajaiban Nepenthes tumbuh alami di hutan-hutan Nusantara.
