Ini Hasil Riset Praktik Cek Fakta di Indonesia

Jumlah pengguna platform digital tahun 2023 di seluruh dunia. SUMBER/GAMBAR: PBB (2023)/Kepios, Digital 2023: Global Overview Report (2023)

Darilaut – Sejumlah peneliti melakukan riset mengenai praktik cek fakta di Indonesia. Hasil riset ini disampaikan dalam Indonesia Fact Checking Summit (IFCS), awal Mei 2024 di Kota Palembang, Sumatra Selatan yang digagas Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI).

Dalam talkshow bertajuk ‘Mencari Praktik Ideal Pemeriksaan Fakta bagi Ruang Redaksi di Era Post Truth‘, tiga narasumber menyampaikan hasil riset mereka.

Nara sumber tersebut, Pandan Yudhapramesti Kaprodi S-1 Jurnalistik Universitas Padjajaran, Purnama Alamsyah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Anastasya Adriarti akademisi dari Universitas Bakrie.

Hasil riset itu ditanggapi oleh Profesor Masduki dari Universitas Islam Indonesia.

Dalam risetnya, Pandan meneliti praktik redaksi dalam menentukan metode Cek Fakta di Indonesia.

Pandan meneliti tujuh lembaga Cek Fakta, yaitu Mafindo, Tirto.id, Kompas.com, Tempo.co, Liputan6.com, Cekfakta – Suara.com dan AFP periksa fakta.

Salah satu simpulannya adalah sebagian besar konten diambil dari platform Facebook. “Ini karena kerja sama dengan Meta/Fb,” katanya. Selain itu media juga memiliki model otonom dalam menentukan tema konten.

Purnama Alamsyah membagikan temuan risetnya yang berjudul Menelusuri Disinformasi Ruang Gema dalam Pemilihan Presiden di Youtube. Fokus pada Pilpres 2019 dan 2024.

Narasumber ketiga Anastasya Adriarti, membacakan riset dengan judul Dinamika Newsroom di Indonesia melawan Produksi dan Reproduksi Informasi Palsu.

Lewat lima media masing-masing di Makassar, Jakarta, Medan dan Surabaya, Anas menemukan simpulan jika jurnalisme masih berfungsi sebagai lembaga penjernih informasi di Indonesia.

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Profesor Masduki merespons hasil riset dari akademisi yang di antaranya juga praktisi atau jurnalis.

Bersumber dari dana hibah dari tiga Lembaga, yaitu AJI, Mafindo dan Google Initiative, Masduki mengatakan riset yang muncul melibatkan dua profesi dengan tradisi berbeda yaitu jurnalis dan akademisi, serta bersifat otokritik pada praktik cek fakta bagi jurnalis.

“Maka grant ini harus diperjuangkan kelanjutannya,” katanya.

Hasil riset yang melibatkan 10 kelompok riset juga akan diterbitkan dalam bentuk buku.

Masduki menjelaskan bahwa temuan dari riset 10 kelompok penerima hibah, membuka peluang riset selanjutnya.

Dengan menempatkan konten cek fakta sebagai hasil disinformasi atau tindakan yang disengaja, riset selanjutnya bisa mempertanyakan kepemilikan platform sumber disinformasi, serta data tentang ekosistem pendanaan cek fakta.

“Jadi akan diketahui, apakah ini given atau bagian dari gerakan yang dilakukan oleh siapa dan untuk kepentingan apa,” ujarnya.

IFCS adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan bergantian antara AJI Indonesia, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) didukung Google News Initiative.

Kegiatan IFCS menjadi ajang bertemu para pemeriksa fakta untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Pada tahun 2024, IFCS menjadi giliran AJI dan menjadi rangkaian kegiatan menujut Kongres XII AJI 2024.

Exit mobile version