Jakarta – Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dan Banyan Tree Global Foundation melakukan pendampingan bagi nelayan korban bencana gempa dan tsunami, Sulawesi Tengah 28 September 2018 lalu.
Menurut Ketua Umum ISKINDO, M Zulficar Mochtar, kerjasama ini merupakan inisiatif ISKINDO dan Banyan Tree Global Foundation untuk memulihkan kehidupan ekonomi nelayan kota Palu. “Progam ini merupakan bentuk komitmen ISKINDO untuk membantu pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk merekonstruksi kehidupan ekonomi pasca bencana Palu,” kata Zulficar, Sabtu (21/12).
Sebelumnya, ISKINDO telah mengirimkan misi ekspedisi kemanusiaan awal Oktober 2018 dan penyerahan bantuan alat tangkap dan bengkel nelayan pada November 2018.
Sebagai kelanjutan program tersebut, ISKINDO dengan dukungan dari Banyan Tree Global Foundation pada Jumat, 20 Desember 2019 melakukan sosialisasi program bantuan bencana alam untuk nelayan skala kecil dan kelompok perempuan pengolah hasil perikanan di Kelurahan Mamboro Barat, Kota Palu.
Kegiatan sosialisasi dihadiri kurang lebih 100 nelayan dan kelompok perempuan yang akan melakukan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan di tiga kelurahan di Kota Palu.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, hadir Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu, Ir Burhan Hamading, Sekretaris Dinas Koperasi UMKM & Tenaga Kerja Kota Palu, Yuslam, Kepala Kelurahan Mamboro Barat, Aspul Radhi, serta Perwakilan dari Pemerintah Kelurahan Panau dan Kelurahan Pantoloan Kecamatan Tawaeli.
Lurah Mamboro Barat Aspul Radhi menyampaikan ucapan terima kasih atas rencana program bantuan yang akan dilaksanakan di wilayah kerjanya.
Menurut Aspul Radhi, dari 152 nelayan yang ada di kelurahan Mamboro Barat, hampir seluruhnya terkena dampak bencana, namun belum sepenuhnya mendapatkan bantuan. Sehingga program bantuan kali ini akan diarahkan kepada masyarakat yang belum atau telah menerima bantuan namun masih terbatas sehingga dapat melengkapi.
“Atas nama masnyarakat Mamboro kami mengucapkan terima kasih karena kelurahan kami dipilih menjadi lokasi program, nelayan kami akan sangat terbantu dengan progam pendampingan ini,” kata Aspul
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu mengatakan, bantuan yang diberikan harus dapat tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan.
“Kegiatan ini penting untuk memastikan penerima manfaat sesuai dengan syarat atau kriteria yang ditentukan,” kata Burhan.
Menurut Burhan, pasca bencana telah banyak bantuan yang diberikan kepada masyarakat, khususnya kepada nelayan, baik berupa perahu, mesin dan alat tangkap, dari berbagai pihak termasuk pemerintah.
Untuk itu, peran pemerintah kelurahan dan tenaga penyuluh lapangan sangat penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan terdistribusi merata kepada pihak yang membutuhkan. Hal ini menghindari konflik atau permasalahan sosial yang dapat muncul di masyarakat.
Perwakilan Dewan Pengurus Pusat ISKINDO Sementara Hartono sekaligus Koordinator Program mengatakan, sejak awal Iskindo dan Banyan Tree telah terlibat dalam upaya penanganan bencana di Sulawesi Tengah.
“ISKINDO telah hadir di Palu seminggu setelah bencana terjadi,” ujar Hartono.
Dalam tahap tanggap darurat, ISKINDO telah mengumpulkan dan mendistribusikan kurang lebih 70 ton barang untuk pemenuhan kebutuhan dasar melalui Ekspedisi Phinisi Bakti. Iskindo juga telah memberikan bantuan alat tangkap dan perlengkapan perbengkelan bagi nelayan di Donggala yang diharapkan dapat membantu nelayan melakukan perbaikan sarana produksinya.
Sementara itu, Banyan Tree bekerjasama dengan NGO membantu memberikan peralatan sekolah, mendirikan ruang belajar sementara untuk anak-anak penyintas, serta toilet umum di wilayah di Palu, Sigi dan Donggala. Banyan Tree juga mendampingi masyarakat dalam pengelolaan sampah daur ulang menjadi produk yang dapat dimanfaatkan di wilayah Sigi.
Pelaksanaan kali ini melalui tiga komponen program. Pertama, penyediaan sarana produksi. Kegiatan ini berfokus pada pengadaan sarana perahu, mesin, alat tangkap dan alat-alat pengolahan serta pemasaran hasil perikanan yang sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
Kedua, peningkatan kapasitas, terdiri dari serangkaian pelatihan baik manajemen organisasi dan kelembagaan serta teknis dalam pengolahan hasil perikanan. Komponen ketiga, pendampingan dan fasilitasi penguatan kelembagaan dengan target pembentukan kelembagaan koperasi nelayan.*
