Salah satu kisah yang mereka bagikan adalah kepercayaan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna merah ketika berada di kawasan pantai.
Bagi mereka, hal tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah lama hidup dan tetap dihormati hingga sekarang. Mereka tidak memaksakan kami untuk mempercayainya, melainkan menyampaikannya sebagai bagian dari identitas budaya yang melekat pada Pantai Botubolu’o.
Keramahan masyarakat Botubolu’o mengingatkan saya pada ombak di pantai ini. Datangnya tanpa dipanggil, tetapi selalu berhasil membuat siapa saja merasa diterima. Mereka tidak hanya menyambut kami sebagai tamu, tetapi juga mengajak kami menjadi bagian dari cerita yang mereka miliki.
Dari perbincangan sederhana itulah saya menyadari bahwa daya tarik sebuah destinasi tidak selalu terletak pada keindahan alamnya, melainkan juga pada orang-orang yang menghidupkan tempat tersebut.
Perjalanan ini bukan semata-mata untuk mengunjungi sebuah objek wisata. Saya ingin melihat langsung bagaimana alam, budaya, dan kehidupan masyarakat berpadu membentuk identitas sebuah tempat.
Pantai Botubolu’o membuktikan bahwa sebuah perjalanan akan selalu lebih bermakna ketika kita membuka diri untuk tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga mendengarkan cerita, mengenal masyarakat, dan menghargai tradisi yang mereka jaga. Sebab, terkadang yang paling membekas dari sebuah perjalanan bukanlah tempat yang kita datangi, melainkan orang-orang yang membuat kita ingin kembali lagi suatu hari nanti. (Gysta Finanda, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada – UGM 2026 di Gorontalo)



