Jejak Mikroplastik di Tubuh Biota Laut Hingga Dikonsumsi Manusia

Ilustrasi mikroplastik. FOTO: NOIR PRIMADONA PURBA

Darilaut – Plastik yang terbuang di daratan masuk ke badang sungai dan terbawa hingga ke laut dapat terdegradasi menjadi mikroplastik. Mikroplastik yang berukuran kurang dari lima milimeter itu tidak hanya berhenti di lingkungan perairan.

Plastik yang terdegradasi menjadi mikroplastik terbawa ke sungai, dibuang dipinggir pantai dan laut, kemudian dimakan plankton, terakumulasi pada ikan dan biota laut lainnya.

Mikroplastik ini masuk ke dalam rantai makanan, hingga akhirnya berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi pangan laut.

“Inilah yang menjadi latar belakang riset kami, yaitu melihat bagaimana mikroplastik terakumulasi dan berpindah di dalam tubuh biota,” kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Heny Suseno, seperti dikutip dari Brin.go.id.

BRIN melakukan kajian mikroplastik dari sisi biota laut dan potensi risikonya bagi manusia. Perspektif ini dikaji melalui pemanfaatan teknologi nuklir sebagai alat perunut mikroplastik di dalam organisme hidup.

Heny dan tim mengembangkan pendekatan nuklir dengan melabeli mikroplastik menggunakan radioisotop iodium-131 (I-131).

Mikroplastik berlabel ini kemudian dimasukkan ke dalam media air laut bersama biota hidup, seperti ikan bandeng atau kerang. Pergerakan dan akumulasi mikroplastik di dalam tubuh organisme dipantau secara berkala menggunakan spektrometer gamma, tanpa harus mematikan hewan uji.

“Keunggulan teknologi nuklir adalah kita bisa menganalisis biota dalam keadaan hidup. Setelah diukur, biota bisa dikembalikan lagi dan diamati terus sampai percobaan selesai,” ujar Heny, Sabtu (20/12).

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menghitung faktor bioakumulasi serta waktu tinggal biologis mikroplastik di dalam tubuh biota, informasi yang sulit diperoleh dengan metode konvensional.

Tak hanya itu, teknologi nuklir juga memungkinkan pemetaan distribusi mikroplastik di organ tertentu, seperti insang, sehingga memberikan gambaran lebih detail tentang interaksi mikroplastik dengan sistem biologis.

Dengan data tersebut, peneliti dapat memperkirakan potensi paparan mikroplastik pada manusia berdasarkan pola konsumsi ikan.

Riset ini didukung melalui skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN, serta melibatkan kolaborasi dengan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Indonesia.

Sejumlah hasil penelitian telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bereputasi sebagai bagian dari upaya membangun basis pengetahuan berbasis bukti.

Dengan menggabungkan pemantauan lingkungan, rekonstruksi sejarah pencemaran, serta kajian bioakumulasi pada biota, BRIN membangun pendekatan komprehensif dalam memahami persoalan mikroplastik laut.

Teknologi nuklir hadir bukan untuk menggantikan metode konvensional, melainkan untuk melengkapinya, terutama dalam memahami jejak waktu pencemaran dan risikonya bagi kehidupan manusia.

Exit mobile version