Jika Ukuran Kuda Laut Hasil Sitaan Menurun itu Indikasi Tekanan Terhadap Populasi

Spesies kuda laut. FOTO: BRIN

Darilaut – Peneliti ahli utama Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Reny Puspasari, mengatakan, data hasil sitaan menjadi salah satu sumber informasi yang dinilai strategis.

Apabila ukuran kuda laut yang ditemukan dalam hasil sitaan terus menurun dalam rentang waktu tertentu, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikasi tekanan terhadap populasi, kata Reny dalam Lokakarya ”Peningkatan Kapasitas Monitoring Perikanan dan Perdagangan Kuda Laut” di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (28/8).

Barang sitaan dapat mengungkap peta perjalanan dan modus penyelundupan apabila dicatat secara lebih rinci dan dianalisis secara berkelanjutan.

“Jadi sitaan itu bukan cuma barang bukti, tapi dia bisa mengungkap peta, jalan, modus dan rute penyelundupan,” kata Reny seperti dikutip dari Brin.go.id.

Reny menyebutkan data sitaan yang dikumpulkan secara berkala juga dinilai dapat menjadi indikator kondisi populasi kuda laut.

Misalnya, menurut Reny, perubahan ukuran individu yang ditemukan dalam sitaan dari tahun ke tahun dapat memberikan gambaran mengenai tekanan terhadap sumber daya di alam.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keberlanjutan populasi hingga kualitas sumber daya genetik.

Selain untuk kepentingan nasional, kata Reny, penguatan data perdagangan ilegal juga berkaitan dengan kewajiban Indonesia sebagai negara anggota CITES  (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Data terkait perdagangan ilegal dan penyelundupan perlu didokumentasikan dan dilaporkan sesuai mekanisme yang berlaku.

Dalam Lokakarya yang diikuti oleh peserta dari berbagai stakeholder itu, Reny juga memperkenalkan pendekatan pendataan yang mengacu pada panduan kelompok ahli kuda laut IUCN (nternational Union for Conservation of Nature).

Pendataan hasil sitaan antara lain mencakup tiga aspek utama, yakni informasi mengenai tindakan penyelundupan, identifikasi dan kuantifikasi spesimen, serta karakteristik biologis individu, kata Reny.

Menurut Reny, semakin rinci data yang dikumpulkan, semakin besar peluang informasi tersebut digunakan untuk memperbaiki pengawasan perdagangan sekaligus menjadi dasar pengelolaan sumber daya.

Reny mengatakan pemetaan awal yang dilakukan tim peneliti juga menunjukkan adanya dugaan jalur perdagangan dari sejumlah wilayah sumber menuju titik transit tertentu sebelum kemudian keluar dari Indonesia.

Informasi tersebut masih membutuhkan validasi lebih lanjut, tetapi dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu mendapatkan perhatian pengawasan lebih besar.

Melalui lokakarya tersebut, Reny berharap tidak berhenti pada peningkatan kapasitas petugas dalam mengenali kuda laut, tetapi berlanjut pada kolaborasi pengumpulan data di berbagai titik.

“Data itu tidak hanya harus data yang sifatnya ekologis, data tangkapan, data perdagangan juga. Bahkan data sitaan pun bisa berbunyi, bisa memberikan suatu informasi,” ujar Reny.

Penyempurnaan data menjadi kunci untuk menjembatani kebutuhan perdagangan legal dengan prinsip keberlanjutan.

Dengan basis data yang lebih kuat, penetapan kuota diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur, sementara data sitaan dapat digunakan untuk memperkuat penindakan sekaligus membaca kondisi sumber daya kuda laut di alam, kata Reny.

Menurut Reny, persoalan kuota tidak dapat diselesaikan hanya dengan menaikkan jumlah kuota secara langsung. Scientific authority yang memberikan rekomendasi kuota tetap membutuhkan dasar ilmiah yang kuat.

Exit mobile version