Sokhom, salah satu dari lebih dari 4.000 petani yang memperoleh manfaat dari layanan saran ini. Ia dan suaminya menanam padi organik, singkong, dan kacang mete di lahan pertanian mereka. Perjalanan mereka tidaklah mudah, dan ia belajar bertani di tengah ketidakpastian. Meskipun risiko tetap ada, kini Sokhom memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak ia miliki: waktu untuk bertindak.
Melalui media sosial dan aplikasi seluler lokal bernama Chamka, PEARL mengirimkan buletin kepada para petani dari Layanan Agrometeorologi Kamboja. Buletin ini memadukan prakiraan curah hujan dengan saran praktis, seperti kapan harus melakukan irigasi dan kapan sebaiknya menunda.
Kali ini, Sokhom mengetahui sepuluh hari sebelumnya bahwa hujan tidak akan turun, sehingga ia dapat melakukan persiapan.
“Mereka menyarankan kami untuk menutup tanggul lahan dan menyimpan air hingga ketinggian tertentu. Kini, lahan dengan tanggul yang memadai memiliki lebih sedikit gulma, yang secara signifikan mengurangi kerugian kami,” kata Sokhom seperti dikutip dari Fao.org.
Akses terhadap informasi peringatan dini telah mengubah cara ia bersiap dan merespons kekeringan, termasuk dalam hal pengelolaan air. Pada musim-musim sebelumnya, Sokhom biasa memanen tanpa mengetahui apakah hujan deras akan turun, sehingga padi yang baru dipanen pun berisiko rusak. Kini, ia memilih untuk menunggu.




