Kampus Bukan Hanya Fokus Capaian Akademik, Penting Memperhatikan Kondisi Mental Mahasiswa

Dosen Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr. Ns. Yuniar Mansye Soeli saat sidang promosi doktor di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI), pada Senin (6/7). FOTO: HUMAS UNG

Darilaut – Kampus perlu memiliki sistem pendampingan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, akan tetapi memperhatikan kondisi mental dan emosional mahasiswa.

“Mahasiswa tidak cukup hanya didorong untuk berprestasi secara akademik, tetapi juga perlu dibantu agar memiliki resiliensi, kemampuan koping yang sehat, dan keberanian untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah,” kata Dr. Ns. Yuniar Mansye Soeli, dosen Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Menurut Dr. Yuniar, peran Dosen Penasihat Akademik tidak lagi dipandang sebatas pengurus nilai akademik atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), tetapi juga sebagai garda terdepan dalam melindungi kesehatan mental mahasiswa.

Yuniar yang juga dosen Keperawatan UNG memperkenalkan model NIAR. Model ini merupakan inovasi yang menerapkan empat langkah taktis, yaitu Nurturing Relationship, Identifying Suicide Ideation, Adaptive Coping Enhancement, dan Resilience.

Model NIAR menekankan pentingnya peran Dosen Penasihat Akademik dalam mendampingi mahasiswa secara lebih manusiawi, responsif, dan preventif. Model ini mendorong dosen untuk membangun hubungan yang suportif, mengenali tanda-tanda ide bunuh diri, memperkuat kemampuan koping adaptif, serta meningkatkan resiliensi mahasiswa.

Model NIAR lahir dari kepedulian terhadap meningkatnya tekanan psikologis yang dialami mahasiswa.

“Model NIAR kami hadirkan sebagai upaya untuk memperkuat peran Dosen Penasihat Akademik dalam mengenali, mendampingi, dan membantu mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis,” kata Yuniar yang resmi meraih gelar doktor melalui Sidang Promosi Doktor yang dilaksanakan di ruang sidang Promosi Doktor Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI), pada Senin (6/7).

Yuniar berharap Model NIAR dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan kampus secara lebih luas, baik di tingkat daerah maupun nasional. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat menjadi ruang yang tidak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga generasi muda yang tangguh secara mental.

Harapan kami, kata Yuniar, model NIAR dapat menjadi bagian dari sistem pendampingan mahasiswa di perguruan tinggi. Jika diterapkan secara konsisten, model ini dapat membantu kampus menciptakan lingkungan akademik yang lebih peduli, aman, dan responsif terhadap kesehatan mental mahasiswa.

Melalui riset doktoralnya, Yuniar menghadirkan Model NIAR sebagai solusi konkret untuk menekan angka depresi dan ide bunuh diri di kalangan mahasiswa, khususnya di Provinsi Gorontalo.

Inovasi Model NIAR terbukti memberikan hasil positif. Dalam uji coba terhadap 84 mahasiswa, model ini berhasil meningkatkan resiliensi mahasiswa sebagai salah satu faktor penting dalam menghadapi tekanan akademik, sosial, dan psikologis.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pendampingan akademik dapat menjadi strategi efektif dalam pencegahan masalah kesehatan mental di lingkungan kampus.

Dekan Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG, Dr. Hartono Hadjarati, mengatakan keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata komitmen dosen FOK UNG dalam mengembangkan keilmuan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki dampak langsung bagi masyarakat dan dunia pendidikan tinggi.

Kehadiran Model NIAR menjadi kontribusi penting dari dosen FOK UNG dalam menjawab persoalan kesehatan mental mahasiswa. Ini bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga bentuk pengabdian keilmuan yang sangat relevan dengan kebutuhan kampus dan generasi muda saat ini, kata Hartono.

Hartono mengatakan bahwa Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG terus mendorong dosen untuk menghasilkan karya riset yang inovatif, aplikatif, dan berdampak. Model NIAR dapat menjadi salah satu contoh bagaimana hasil penelitian doktoral mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan yang dihadapi mahasiswa.

“FOK UNG sangat mendukung pengembangan riset yang berorientasi pada solusi. Kami berharap Model NIAR dapat terus dikembangkan, disosialisasikan, dan menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi dalam memperkuat sistem pendampingan mahasiswa, khususnya dalam aspek kesehatan mental,” ujarnya.

Pencapaian Dr. Yuniar juga menjadi kebanggaan bagi FOK UNG karena menunjukkan kontribusi nyata dosen dalam menghasilkan inovasi berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Isu depresi dan ide bunuh diri pada mahasiswa merupakan persoalan serius yang membutuhkan pendekatan ilmiah, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Melalui Model NIAR, Dr. Yuniar tidak hanya menghadirkan gagasan akademik, tetapi juga solusi praktis yang berpotensi diterapkan dalam sistem pendidikan tinggi. Inovasi ini diharapkan dapat mendukung upaya mencetak generasi muda Indonesia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan sosial menuju Indonesia Emas 2045.

Exit mobile version